Setara Dengan Pendidikan, Selamat Hari Pendidikan Nasional!4 min read

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Enam puluh tahun berlalu sejak diterbitkannya Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei juga bertepatan dengan hari lahir dari bapak pendidikan nasional di Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Dilahirkan dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, kelak beliau akan menjadi Menteri Pengajaran pertama kali Republik Indonesia.

Privilege Pendidikan yang Belum Bisa Dinikmati Semua Orang

Mungkin kita masih kerap membaca header-header media yang mengatakan bahwa tingkat pengangguran cukup tinggi. Daya saing masyarakat yang cukup kecil di skala global. Dan segala kegelisahan-kegelisahan yang mungkin ada karena timpangnya pendidikan dan pengetahuan. Bukan rahasia lagi apabila pendidikan adalah sebuah privilege yang masih belum bisa dinikmati oleh semua orang. Dan juga bukan sebuah rahasia lagi apabila untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, ada pula harga yang harus disisihkan. Hal inilah yang masih menjadi ketimpangan bagi sebagian orang untuk memperoleh akses tersebut.

Ketimpangan pendidikan ini sedikit banyak berpengaruh pada pola pikir masyarakat dan peluang untuk bisa meningkatkan taraf kehidupan. Sebagai contoh misalnya pada perusahaan A yang membutuhkan kualifikasi diploma, sarjana, atau master pada bidang-bidang tertentu. Hal yang mungkin sedikit susah dicapai untuk orang yang sebenarnya berpengalaman pada bidang tersebut, namun memang tidak memiliki gelar yang dibutuhkan. Padahal sebenarnya memiliki “terdidik” dan memiliki pengalaman yang cukup baik pada posisi yang dibutuhkan.

Menyetarakan Pendidikan Dengan Membaca

Pengetahuan adalah bahan baku utama masyarakat untuk dapat bersaing, baik secara individual, maupun skala yang lebih besar. Pengetahuan ini bisa didapatkan dari berbagai sumber, misalnya pengalaman hidup, memperolehnya dari pendidikan formal, atau bisa dengan paling sederhana adalah membaca. Kemampuan dan kemauan untuk membaca inilah yang bisa menjadi pembeda seseorang dalam memperoleh pengetahuan yang lebih.

membaca buku

source: pexels

Salah satu tujuan pendidikan adalah memperoleh informasi, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang. Hal ini sebenarnya bisa dengan mudah dilakukan dengan banyak membaca informasi dan sumber pengetahuan yang sekarang bisa mudah didapatkan. Kegemaran membaca ini juga merupakan solusi yang lebih “terjangkau” untuk memperoleh pengetahuan.

Mengisi Hari Pendidikan Nasional dengan Lebih Giat Membaca

Membaca adalah salah satu metode belajar dengan membaca tulisan baik versi cetak, atau kini dapat dilakukan dengan membaca tulisan secara digital. Membaca juga dipercaya dapat meningkatkan kemampuan linguistik (bahasa), maupun kognitif. Dan tentunya dengan membaca maka pengetahuan pun akan bertambah, sehingga idiom “membaca membuka jendela dunia” dirasa tidak berlebihan. Berkembangnya teknologi semakin membuat persebaran informasi menjadi lebih cepat. Berbagai macam jenis konten kini dapat kita akses dengan lebih cepat. Namun dibalik cepatnya persebaran informasi tersebut, membuat masyarakat memerlukan sebuah filter ketika menikmati atau membaca sebuah informasi di media digital.

Baca Juga: Belajar Php Untuk Pemula, 5 Menit Sudah Bisa Dasar Php

Peran Literasi Digital Sebagai Filter Informasi

Seandainya dijelaskan secara sederhana literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui dan membaca hal-hal yang mereka dapatkan melalui media digital. Kemudian diterapkan untuk memperoleh pengetahuan baru dan dibagikan kepada masyarakat. Masyarakat disini kurang lebih diartikan sebagai masyarakat digital yang sudah melek terhadap teknologi.

Momen Hari Pendidikan Nasional ada baiknya dijadikan titik untuk menggerakkan hati masyarakat untuk lebih giat membaca informasi dan membandingkan informasi yang sama melalui berbagai sumber. Kemauan untuk melakukan riset sederhana ini setidaknya akan memberi opsi baru pada mereka untuk mengolah informasi dengan benar.

digital literacy

source: pexels

Namun rupanya masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat literasi digital yang cukup lemah. Hal ini bisa dilihat dengan mudahnya masyarakat menerima informasi bersifat hoax, dan parahnya malah dengan mudah membagikannya kembali. Fenomena seperti ini terjadi karena keengganan masyarakat untuk membaca lebih lanjut dan cenderung tertarik pada judul-judul konten yang bombastis.

Berantas Hoax Dengan Membaca, Membaca, dan Membaca

Hoax tidak hanya berlaku untuk berita-berita harian terkait politik atau selebritis yang mungkin sering kita temui. Namun juga sumber informasi lain, dan bahkan parahnya banyak sumber informasi di bidang pendidikan yang juga kurang kredibel. Dan tentunya informasi-informasi seperti ini akan menimbulkan kerugian bagi pembacanya. Selain informasi yang didapat belum tentu benar, tapi juga kurang bisa dipertanggungjawabkan sumbernya.

menangkal hoax

source: pexels

Nah, salah satu hal yang bisa menangkal penyebaran hoax adalah dengan membaca berbagai informasi sejenis. Tidak hanya memberi sudut pandang lain, namun juga melatih kemampuan kita untuk membedakan mana berita informasi yang kredibel dan benar.

Pentingnya Informasi Sebagai Modal Pendidikan

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa salah satu modal pendidikan adalah akses terhadap berbagai sumber pengetahuan dan informasi. Sehingga, membaca adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Namun baiknya membaca harus diiringi dengan kemauan kita untuk melakukan literasi digital. Dan bukan tidak mungkin, tanpa mengikuti pendidikan formal sekalipun kita mampu memperoleh informasi yang hampir sama dengan membaca. Maka, baca baca dan bacalah!

Pindah ke DomaiNesia

Tertarik mendapatkan semua fitur layanan DomaiNesia?
Dapatkan Diskon Migrasi 25% serta GRATIS biaya migrasi & setup

Ya, migrasikan layanan saya!
>