YTTA Beyond AI: Seminar Eksplorasi AI dan MCP Bersama DomaiNesia
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin membuka cara baru untuk mengembangkan website dan aplikasi. Kini, AI tidak hanya membantu menghasilkan kode, tetapi juga dapat terhubung dengan berbagai tools untuk menjalankan tugas yang lebih kompleks. Namun, bagaimana cara memanfaatkan teknologi tersebut secara efektif tanpa mengabaikan kualitas dan keamanan?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam Yang Tech Tech Aja: Beyond AI, sebuah event teknologi yang diselenggarakan DomaiNesia bersama Central Data Technology (CDT) dan Akamai pada 24–25 Oktober 2026 lalu.
Selama dua hari, kegiatan ini menghadirkan sejumlah praktisi teknologi untuk berbagi wawasan mengenai AI Agent, Model Context Protocol (MCP), pengembangan website, hingga software testing. Melalui sesi diskusi dan demonstrasi, acara ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi bagaimana AI dapat diterapkan dalam proses pengembangan produk digital.
Hari Pertama: Mengenal AI Agent, MCP, dan Pengembangan Website Berbasis AI
Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi pembuka rangkaian Yang Tech Tech Aja dengan dua agenda utama, yaitu Tech Talks dan Live Demo. Kedua sesi tersebut membawa peserta mengenal perkembangan AI sekaligus memahami alur penggunaannya dalam pembuatan website.
Pembahasan hari pertama tidak hanya berfokus pada kemampuan AI dalam menghasilkan kode. Infrastruktur, integrasi tools, dan peran manusia dalam mengendalikan proses pengembangan juga menjadi bagian penting dari materi acara.
Memahami Peran MCP dan AI Agent dalam Pengembangan Teknologi
Sesi Tech Talks mengangkat topik “Memahami Model Context Protocol (MCP) dan AI Agents” dengan menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang teknologi yang berbeda, yaitu:
- Willih Angga, CTO DomaiNesia.
- Irfan Maulana A., Solution Architect Central Data Technology.
- Nayaka Yoga Pradipta, Fullstack AI Engineer Ledgerowl.
Diskusi yang dipandu oleh Muhamad Jamaludin ini membahas perkembangan AI, termasuk perubahan cara developer bekerja ketika AI mulai dilibatkan dalam proses pengembangan software.
Salah satu topik utamanya adalah perbedaan AI Assistant dan AI Agent. Jika AI Assistant umumnya digunakan untuk membantu pengguna menyelesaikan tugas melalui instruksi, AI Agent dapat dirancang untuk menjalankan serangkaian tindakan menggunakan tools dan informasi yang tersedia.
Kemampuan tersebut memunculkan kebutuhan integrasi antara AI dan sistem eksternal. Di sinilah Model Context Protocol atau MCP berperan sebagai standar yang memungkinkan aplikasi AI terhubung dengan tools dan sumber data melalui mekanisme yang terstruktur.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai pertimbangan saat mengimplementasikan MCP, mulai dari kebutuhan infrastruktur, kompatibilitas sistem, biaya penggunaan AI, hingga keamanan akses.
Pembahasan ini relevan karena pengembangan AI Agent bukan sekadar memberikan kemampuan tambahan kepada model AI. Developer juga perlu menentukan tools yang dapat digunakan, data yang boleh diakses, dan tindakan yang memerlukan persetujuan pengguna.
Bagi pembaca yang ingin memahami teknologi tersebut lebih jauh, DomaiNesia juga menyediakan pembahasan mengenai cara kerja dan contoh penggunaan Model Context Protocol.
Dari Ide Menjadi Website dengan Bantuan AI dan MCP
Setelah sesi diskusi, kegiatan berlanjut dengan Live Demo bertajuk “Mengembangkan Bisnis dengan AI dan MCP tanpa Jago Programming” bersama Ibnu Sina Wardy, Founder GITS.ID sekaligus Google Developer Expert.
Sesi ini memperkenalkan pendekatan pengembangan website yang memanfaatkan AI untuk menerjemahkan kebutuhan pengguna menjadi rancangan dan kode aplikasi.
Melalui materi praktik yang disiapkan, proses pengembangan dimulai dari langkah sederhana, yaitu menentukan masalah yang ingin diselesaikan. Ide tersebut kemudian disusun menjadi kebutuhan produk sebelum diterjemahkan menjadi instruksi atau prompt untuk AI.
Salah satu contoh yang digunakan dalam materi adalah website katalog produk sederhana. AI dapat membantu menyusun prototipe berdasarkan kebutuhan yang sudah ditentukan, seperti menampilkan daftar produk dan menyediakan filter kategori.
Materi ini juga menekankan pentingnya pemeriksaan hasil. Kode yang dihasilkan AI tetap perlu diuji untuk memastikan fitur berjalan sesuai kebutuhan dan tidak menimbulkan masalah baru.
Tahap berikutnya memperkenalkan penggunaan Hosting Nimbus DomaiNesia yang terintegrasi dengan MCP sebagai bagian dari alur deployment atau publikasi website.
Integrasi tersebut memungkinkan aplikasi AI yang kompatibel berinteraksi dengan lingkungan hosting menggunakan tools yang tersedia dan izin akses yang diberikan. Dengan demikian, AI tidak hanya membantu proses pembuatan kode, tetapi juga dapat mendukung pekerjaan pengelolaan website.
Melalui pendekatan ini, peserta memperoleh gambaran mengenai proses pengembangan website dari perencanaan ide, pembuatan prototipe, pengujian, hingga persiapan publikasi secara online.
Materi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa AI dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis. Namun, pengguna tetap perlu memahami kebutuhan website, memeriksa hasil yang dihasilkan AI, dan menyetujui tindakan sebelum perubahan diterapkan.
Hari Kedua: Mendalami AI Agent untuk Development dan Software Testing
Minggu, 25 Oktober 2026, rangkaian Yang Tech Tech Aja berlanjut dengan pembahasan yang lebih mendalam mengenai penggunaan AI dalam pengembangan software.
Jika hari pertama banyak memperkenalkan cara membangun website menggunakan AI, hari kedua menyoroti bagaimana developer dan software tester dapat memanfaatkan AI Agent dalam pekerjaan mereka.
Fokus pembahasan juga meluas pada pemilihan teknologi, kualitas aplikasi, keamanan, dan pengawasan manusia ketika AI mulai dilibatkan dalam proses development maupun production.
Community Sharing: AI Agent untuk Development dan Testing
Hari kedua menghadirkan sesi community sharing bertajuk “AI Agent untuk Development & Testing” bersama tiga praktisi teknologi:
- Eka Jayanti, Web Developer Atma Connect dan Google Developer Expert on Web.
- Aditya Mirza Bahari, President of Indonesia Software Testing Board (IDSTB).
- Aldy Syah Daviq Ramadhan, Senior AI QA Engineer Compare Club Australia.
Sesi yang dimoderatori Muhamad Jamaludin ini mengangkat berbagai pendekatan dalam membangun dan menggunakan aplikasi berbasis AI.
Salah satu pembahasannya berkaitan dengan pemilihan Large Language Model (LLM), yaitu model AI yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan bahasa. Developer dapat mempertimbangkan penggunaan model open source yang dikelola sendiri atau mengakses model melalui layanan API.
Kedua pendekatan tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda dari sisi biaya, fleksibilitas, performa, dan pengelolaan infrastruktur. Karena itu, pemilihan teknologi perlu disesuaikan dengan tujuan pengembangan dan kemampuan tim.
Diskusi juga mengangkat perbedaan REST API, Function Calling, dan MCP sebagai pendekatan untuk menghubungkan AI dengan sistem eksternal.
Selain integrasi teknologi, sesi ini membahas potensi AI Agent dalam proses software testing dan Quality Assurance (QA). AI dapat membantu pekerjaan seperti menyusun skenario pengujian, menjalankan pemeriksaan, dan menganalisis hasil pengujian.
Meski demikian, penggunaan AI tetap membutuhkan validasi manusia. Tim pengembang harus memastikan bahwa hasil pengujian benar-benar menggambarkan kualitas aplikasi dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Materi hari kedua turut menyoroti perubahan keterampilan yang dibutuhkan software tester. Ketika pekerjaan pengujian berulang semakin banyak dibantu AI, kemampuan memahami spesifikasi, mengevaluasi hasil, dan mengidentifikasi kegagalan menjadi semakin penting.
Pembahasan ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI tidak hanya mengubah tools yang digunakan developer. Teknologi tersebut juga mendorong perubahan cara tim bekerja dan mengembangkan keahlian mereka.
Menggunakan AI Coding Agent untuk Testing dan Production dengan Aman
Rangkaian hari kedua dilanjutkan dengan sesi presentasi “AI Coding Agent untuk Testing dan Production dengan Aman” bersama Aldy Syah Daviq Ramadhan.
Pembahasan ini membawa penggunaan AI ke konteks yang lebih luas, khususnya ketika AI Agent mulai dilibatkan dalam proses pengembangan aplikasi yang akan digunakan oleh pengguna sebenarnya.
AI Coding Agent dapat membantu developer menjalankan berbagai pekerjaan teknis, mulai dari menulis kode, berinteraksi dengan tools pengembangan, hingga mendukung proses testing.
Namun, kemampuan menghasilkan kode dengan cepat tidak secara otomatis menjamin kualitas aplikasi. Developer tetap membutuhkan proses perencanaan, pengujian, pemeriksaan keamanan, dan evaluasi sebelum aplikasi dipublikasikan.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah spec-driven development, yaitu pengembangan software yang dimulai dari spesifikasi dan kebutuhan yang jelas.
Pendekatan tersebut menempatkan kebutuhan produk sebagai acuan sebelum proses implementasi dilakukan. Dengan demikian, hasil pekerjaan AI dapat diperiksa berdasarkan tujuan dan kriteria yang sudah disepakati.
Hal ini sejalan dengan prinsip Software Development Life Cycle (SDLC), yang membantu tim mengelola pengembangan software melalui tahapan yang terstruktur.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam sesi ini. Ketika AI Agent mendapatkan akses ke repository, data perusahaan, atau lingkungan production, developer perlu memastikan bahwa setiap tindakan memiliki batasan yang sesuai.
Prinsip least privilege, misalnya, mengharuskan sistem memberikan hak akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan pekerjaan. Pendekatan tersebut membantu mengurangi risiko perubahan yang tidak diinginkan akibat kesalahan instruksi maupun penggunaan tools.
Topik ini berkaitan erat dengan keamanan MCP dan pembatasan akses AI Agent, terutama ketika AI mulai terhubung dengan layanan hosting, database, atau infrastruktur production.
Melalui materi tersebut, peserta memperoleh perspektif bahwa penggunaan AI dalam software development perlu diimbangi dengan pengawasan, standar kualitas, dan kontrol keamanan yang memadai.
Membuka Ruang Kolaborasi Bersama Komunitas Teknologi
Selain menghadirkan pembicara dari berbagai bidang, Yang Tech Tech Aja juga melibatkan komunitas teknologi sebagai bagian dari penyelenggaraan acara.
Pada hari pertama, kegiatan didukung oleh Komunitas Startup Jogja sebagai community partner. Sementara itu, hari kedua melibatkan sejumlah komunitas developer dan teknologi, termasuk JogjaDev, ISQA, DevOps Jogja, DevCode, dan PyLadies Yogyakarta.
Keterlibatan komunitas ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan AI.
Rangkaian acara juga menyediakan sesi tanya jawab dan kesempatan networking. Melalui agenda tersebut, peserta memiliki ruang untuk mendiskusikan materi, bertukar perspektif, serta membangun hubungan dengan sesama pegiat teknologi.
Bagi DomaiNesia, kolaborasi bersama CDT, Akamai, para narasumber, dan komunitas menunjukkan pentingnya mempertemukan berbagai perspektif dalam membahas perkembangan teknologi.
AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan model menghasilkan jawaban atau kode. Pemanfaatannya juga membutuhkan pemahaman mengenai infrastruktur, integrasi sistem, kualitas pengembangan, dan keamanan.
Dua Hari Belajar, Berbagi, dan Menjelajahi Potensi AI
Rangkaian Yang Tech Tech Aja: Beyond AI pada 24–25 Oktober 2026 menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi mengenai perkembangan kecerdasan buatan.
Hari pertama memperkenalkan bagaimana AI dan MCP dapat membantu proses pembuatan serta pengelolaan website. Sementara itu, hari kedua memperluas pembahasan menuju penerapan AI Agent dalam software development, testing, dan lingkungan production yang aman.
Dari kedua hari tersebut, terdapat satu pesan penting: AI dapat menjadi alat yang membantu mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas hasilnya tetap bergantung pada pemahaman, keputusan, dan pengawasan manusia.
Melalui kolaborasi dan kegiatan berbagi pengetahuan seperti ini, DomaiNesia berharap semakin banyak pelaku teknologi yang dapat memahami perkembangan AI sekaligus menerapkannya secara bertanggung jawab.
Terima kasih kepada Central Data Technology, Akamai, seluruh narasumber, community partner, dan peserta yang telah menjadi bagian dari Yang Tech Tech Aja: Beyond AI. Sampai bertemu dalam kegiatan dan kesempatan berbagi teknologi berikutnya!









