
Perbedaan JSON dan Object Literal JavaScript Beserta Contohnya

Halo DomaiNesians! Lagi fokus ngoding JavaScript, tiba-tiba mandek sambil melototin layar, “Eh… ini JSON apa object literal, sih?” Kalau iya, tenang, kamu nggak sendirian. Nggak sedikit developer, baik yang masih pemula maupun yang udah senior, sering ketuker antara keduanya. Maklum, bentuknya mirip banget. Tapi kalau dibedah, aturan penulisan dan tujuan pemakaiannya jelas berbeda. Padahal, salah paham soal perbedaan JSON dan object literal JavaScript bisa bikin kode error, data nggak kebaca, bahkan nyusahin waktu debugging.
Kabar baiknya, di artikel ini kamu bakal nemuin penjelasan yang simpel tapi mendalam. Kami bakal bongkar perbedaan JSON dan object literal JavaScript, lihat contoh nyatanya, plus tips biar kamu nggak salah pilih format lagi.

Object Literal: Dasar & Contoh Singkat
Object literal di JavaScript itu ibarat buku catatan pribadimu: kamu bebas nulis data apa saja, dengan format yang fleksibel, tanpa aturan kutip yang terlalu kaku. Format ini udah jadi bagian inti JavaScript sejak awal, jadi hampir semua developer pasti pernah memakainya.
Sintaks dasar object literal:
1 2 3 4 5 6 7 8 |
let user = { name: "Rani", age: 25, isAdmin: true, greet: function() { console.log("Halo!"); } }; |
Di sini:
name
,age
, danisAdmin
adalahkey-value pairs
.- Kamu bisa menyimpan tipe data apa pun, termasuk fungsi (greet).
- Tidak wajib pakai kutip di nama properti, selama nama tersebut valid.
Biasanya, object literal dipakai untuk:
- Menyimpan konfigurasi aplikasi.
- Mengelompokkan data yang saling terkait.
- Menyediakan metode (fungsi) yang relevan dengan data.
Nah, di sinilah mulai terlihat benang merah dengan perbedaan JSON dan object literal JavaScript: object literal fleksibel banget, sementara JSON punya aturan lebih ketat. Kami bakal kupas itu nanti di bagian perbandingan.
JSON: Aturan & Contoh Valid
Kalau object literal itu fleksibel kayak buku catatan pribadi, JSON itu lebih mirip formulir resmi yang harus kamu isi sesuai aturan. JSON, atau JavaScript Object Notation, adalah format pertukaran data yang ringan, mudah dibaca manusia, tapi punya standar penulisan yang ketat supaya bisa diproses komputer tanpa error.
Beberapa aturannya antara lain:
- Semua nama properti wajib diapit tanda kutip ganda (“).
- Nilai bisa berupa string, angka, boolean, array, objek, atau null, tapi tidak bisa fungsi.
- Di JSON, string wajib pakai tanda kutip ganda (“). Tidak ada opsi pakai kutip tunggal (‘), ya.
- Tidak boleh ada trailing comma (koma terakhir setelah elemen terakhir).
Contoh JSON valid:
1 2 3 4 5 |
{ "name": "Rani", "age": 25, "isAdmin": true } |
Contoh JSON invalid (bakal error):
1 2 3 4 5 |
{ name: "Rani", // ❌ Tidak pakai kutip ganda "age": 25, "greet": function() { console.log("Halo!"); } // ❌ Fungsi tidak diizinkan } |
JSON biasanya dipakai untuk:
- Mengirim & menerima data antar server dan client.
- Menyimpan konfigurasi di file
.json
. - Pertukaran data antar aplikasi yang berbeda bahasa pemrograman.
Di sinilah perbedaan JSON dan object literal JavaScript mulai terlihat jelas. JSON sangat ketat dan aman untuk transfer data antar sistem, tapi tidak sefleksibel object literal yang bisa langsung dipakai di kode JavaScript dan bahkan menyimpan fungsi di dalamnya.
Perbedaan JSON dan Object Literal JavaScript
Memang, secara visual keduanya sama-sama menggunakan struktur key-value. Tapi misalnya dalam penulisan string:
Kesimpulan singkatnya:
- Object literal fleksibel untuk digunakan langsung di JavaScript.
- JSON aman dan terstandarisasi untuk pertukaran data lintas platform.
Makanya, memahami perbedaan JSON dan object literal JavaScript akan bikin kamu lebih tepat memilih format sesuai kebutuhan, tidak semua yang terlihat mirip punya fungsi yang sama.
Contoh Implementasi Nyata
Supaya perbedaan JSON dan object literal JavaScript lebih kebayang, kamu akan lihat skenario sehari-hari saat ngoding.

Contoh 1 – Object Literal → JSON
Bayangin kamu lagi bikin aplikasi to-do list, dan kamu mau simpan data ke server:
1 2 3 4 5 |
let task = { title: "Belajar JavaScript", completed: false, deadline: "2025-08-15" }; |
Format ini adalah object literal, fleksibel banget di JavaScript. Tapi, kalau langsung dikirim ke server, datanya tidak akan bisa dibaca dengan benar. Server biasanya mengharapkan data dalam bentuk JSON string yang terstandarisasi.
Konversinya:
1 2 3 4 |
let jsonData = JSON.stringify(task); console.log(jsonData); // Output: {"title":"Belajar JavaScript","completed":false,"deadline":"2025-08-15"} |
Salah satu nilai plus JSON adalah formatnya yang sudah baku secara internasional, jadi gampang dipakai di mana aja. Contohnya, kamu bisa ubah object literal jadi JSON string pakai JSON.stringify() sebelum kirim data lewat API.
Contoh 2 – JSON → Object Literal
Sekarang, server membalas dengan data JSON:
1 |
let jsonResponse = '{"title":"Belajar JavaScript","completed":false,"deadline":"2025-08-15"}'; |
Kalau kamu mau menampilkannya di aplikasi, kamu harus mengubahnya dulu ke object literal:
1 2 3 |
let taskObj = JSON.parse(jsonResponse); console.log(taskObj.title); // Output: Belajar JavaScript |
Catatan:
JSON.parse()
membaca JSON string dan mengubahnya menjadi object literal yang bisa kamu manipulasi.
Common Mistake yang Sering Terjadi
Banyak developer yang merasa udah paham, tapi masih bikin kesalahan ini:
1 2 3 4 5 |
let wrongJSON = '{"title": "Belajar JavaScript", deadline: "2025-08-15"}'; // Property "deadline" tidak pakai kutip ganda JSON.parse(wrongJSON); // Error! |
Kesalahan ini menunjukkan kenapa perbedaan JSON dan object literal JavaScript itu penting:
- Di object literal, penulisan deadline: “2025-08-15” sah-sah aja.
- Di JSON, semua nama properti wajib pakai kutip ganda, kalau tidak akan error saat parsing.

Saatnya Kuasai Perbedaannya!
Sekarang kamu sudah tahu jelas perbedaan JSON dan object literal JavaScript:
- Object literal fleksibel, bebas format, dan bisa menyimpan fungsi.
- JSON lebih ketat, terstandarisasi, dan aman untuk pertukaran data.
Dengan memahami perbedaan JSON dan object literal JavaScript, kamu nggak cuma bikin kode jadi lebih rapi, tapi juga mengurangi risiko bug atau error parsing yang bikin waktu debugging terbuang percuma.
Kalau kamu sering bekerja dengan data yang butuh keamanan ekstra, pastikan juga koneksi websitemu aman. Salah satu langkah termudah adalah memasang SSL Murah DomaiNesia. Dengan SSL, data yang lewat antara server dan browser akan terenkripsi, sehingga terhindar dari pencurian atau manipulasi.
Jadi, kuasai formatnya, terapkan best practice, dan amankan proyek kamu, baik dari sisi kode maupun infrastruktur.