Ciptakan Inovasi Produk Dengan Google Design Sprint5 min read

5/5 (1)

Buat kamu yang berprofesi sebagai Design Leaders, Product Owners, Developers, atau profesi apapun yang berhubungan dengan pengembangan produk, Google Design Sprint bisa menjadi cara yang efektif untuk memangkas waktu. Apa itu Google Design Sprint? Design Sprint yang dikembangkan oleh Google Venture ini merupakan lima tahap pengembangan produk yang bisa membantu perusahaan membuat produk, berdasarkan pemahaman tentang Design Thinking. Lima tahap yang diselesaikan dalam kurun waktu lima hari ini merupakan sebuah cara untuk menjawab pertanyaan kritis seputar bisnis melalui desain, prototype, dan menguji hasil akhir dengan pengguna atau pelanggan.

Proses paling memakan waktu dalam mengembangkan produk adalah proses brainstorming. Proses tersebut bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Namun dengan menerapkan lima tahapan Google Design Sprint, kamu hanya perlu menghabiskan waktu satu minggu. Di atas sempat disebutkan tentang Design Thinking, mari singgung sedikit tentang apa itu Design Thinking. Design Thinking mengacu pada proses kognitif, strategis, dan praktis dimana konsep desain dikembangkan oleh desainer. Design Thinking juga bisa dikaitkan dengan resep inovasi produk dan layanan dalam konteks bisnis dan sosial.

Manfaat Design Sprint

Proses yang mencakup serangkaian metode dari beberapa strategi bisnis, Design Thinking, riset dengan pengguna, bahkan psikologi ini memiliki banyak manfaat, dan berikut ini adalah tiga diantaranya:

  1. Solusi Sederhana Untuk Tantangan Bisnis Yang Kompleks

Google Design Sprint mendukung komunikasi yang efektif, yang akan memberdayakan kontributor untuk berbagi ide, resiko, dan keraguan yang bisa mempengaruhi hasil akhir. Pada akhirnya, kamu bisa mengumpulkan semua keraguan, asumsi, dan mengujinya pada pengguna. Pendekatan kolaboratif memungkinkan kamu mendapatkan jawaban atas masalah yang rumit dalam waktu yang relatif singkat.

  1. Meminimalisasi Resiko

Waktu yang diperlukan untuk melakukan aktivitas ini tidak banyak. Dengan cara ini, kamu bisa meminimalisasi resiko dengan mengurangi banyak waktu dan anggaran untuk langsung memvalidasi ide-ide dan inovasi produk. Mempersempit waktu untuk brainstorming akan memberikan waktu ekstra untuk perbaikan atau perubahan jika terjadi kegagalan di beberapa aspek. Contoh perusahaan-perusahaan yang menerapkan Google Design Sprints adalah Google, P&G, AirBnB, dan Spotify.

  1. Hasil yang Divalidasi Oleh Pelanggan

Ketika perusahaan mengabaikan pendekatan yang berpusat pada pelanggan, akan menyebabkan kesalahpahaman dan ketidaksesuaian dengan kebutuhan pasar. Tetapi hal tersebut justru menjadi pilar penting Google Design Sprint. Itu berarti, selama melakukan aktivitas Google Design Sprint, tim yang ikut berkontribusi harus memahami kebutuhan pelanggan. Tujuan aktivitas Design sprint adalah membangun produk dari perspektif pengguna, serta kebutuhan yang ingin mereka penuhi.

Aturan Main

Untuk melakukan Design Sprint, disarankan untuk mencari tempat yang nyaman untuk melakukan diskusi, untuk menciptakan suasana yang kondusif. Suasana yang kondusif tersebut juga diharapkan bisa memunculkan ide-ide kreatif dan efektif. Kemudian, kamu perlu tahu hal-hal ini sebagai aturan main:

  • Jalannya Design Sprint dipimpin oleh seorang Sprint Master. Seorang Sprint Master wajib hadir dalam setiap diskusi yang berlangsung.
  • Seorang Sprint Master wajib memiliki kemampuan dalam memimpin sebuah tim. Tidak harus CEO, Manajer atau pimpinan tim tertentu. Kemampuan yang diperlukan misalnya tanggung jawab, problem solver, bisa mengambil keputusan, dan lain-lain.
  • Tim diskusi setidaknya berjumlah 3 orang. Tujuan melakukan Design Sprint adalah bertukar ide dan gagasan, oleh karena itu akan lebih baik jika dalam diskusi tersebut tim ada beberapa tim yang terlibat.
  • Semua keputusan-keputusan penting akan ditentukan oleh seorang Sprint Master.

5 Tahap Design Sprint

Setelah semuanya disiapkan, waktunya untuk melakukan Design Sprint. Berikut adalah lima tahapan Design Sprint:

Hari 1: Memahami (Understanding)

Di hari pertama, yang harus kamu lakukan adalah memahami setiap bagian dari permasalahan, hambatan, kesalahan yang ada di proyek tersebut. Bagian-bagian yang dimaksud adalah tujuan proyek, siapa orang yang ikut bertanggung jawab, apa saja kebutuhan-kebutuhan pelanggan, dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk memutuskan tujuan utama dan memfokuskan hanya ke tujuan tersebut. Selain itu, kamu juga akan lebih memahami tantangan dan resiko secara teknis, jadi buatlah estimasi yang realistis dalam mendesain dan mengembangkan produk.

Diskusi di hari pertama penting, karena melibatkan pembuatan peta jalan satu minggu Design Sprint. Setelah memetakan hal-hal yang mendasar, kamu dan tim bisa lebih konsentrasi pada apa yang diperlukan untuk mengembangkan produk. Di akhir diskusi, kamu dan tim sudah memiliki tujuan yang ingin dicapai.

Hari 2: Kembangkan (Diverge)

Pada hari kedua, kamu dan tim fokus untuk menghasilkan dan mengeksplorasi ide sebanyak mungkin. Kamu dan tim bisa meninjau solusi yang ditawarkan, termasuk poin-poin yang kuat dan lemah. Melalui sesi diskusi dan brainstorming , setiap anggota tim akan mengusulkan ide-ide yang nantinya akan dikaji lebih lanjut.

Hari 3: Putuskan (Decide)

Pada tahap ini, kamu akan memiliki ide-ide yang dihasilkan tim pada dua hari sebelumnya. Tujuan diskusi hari ketiga adalah mengidentifikasi ide-ide terbaik dan memutuskan mana dari ide-ide tersebut yang akan diuji coba di langkah selanjutnya. Dari gagasan yang dipilih, kamu dan tim akan membuat roadmap atau peta proses yang akan digunakan untuk membuat prototype. Berbagi ide, lalu dikerucutkan pada satu solusi membuat kamu dan tim cepat dalam menganalisis dan menolak pilihan-pilihan yang tidak relevan. Membuat keputusan bersama adalah hal penting untuk dilakukan, supaya pada tahap eksekusi semua tim bisa ambil bagian.

Hari 4: Buat Prototype (Create Prototype)

Tahap keempat adalah tahap untuk menerapkan semua yang sudah dikembangkan oleh tim. Storyboard yang sudah dibuat akan dikembangkan lagi menjadi prototype, raw model yang akan diuji oleh pelanggan. Dengan ini, masalah utama produk yang dikembangkan dapat dengan mudah dideteksi. Pada tahap ini, kamu dan tim akan membangun produk secara kasar dan akan dihadapkan pada pelanggan. Dengan menjalankan prototype, kamu akan memvalidasi solusi yang kamu tawarkan sebelum menghabiskan anggaran untuk merancang dan mengembangkan produk yang sebenarnya. Ketika produk yang diuji coba membuktikan kegagalan, maka produk tersebut tidak akan dikembangkan, dan kamu tidak akan mengalami sesuatu yang diinginkan.

Hari 5: Validasi (Validate)

Google Venture menyebut ini sebagai “momen kebenaran” atau moment of truth. Validasi adalah saat dimana kamu menguji ide dengan pengguna, pemangku kepentingan (stakeholder), dan pakar yang bersangkutan untuk mendengar feedback langsung dari mereka. Di akhir tahap ini, kamu akan tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Tahap validasi akan membantu kamu memutuskan apakah produk tersebut layak untuk dikembangkan dengan lebih serius, tanpa harus menghabiskan anggaran untuk merancang dan mengembangkan produk yang belum pasti.

Google Design Sprint Cocok Untuk Startup

Metode yang dikembangkan oleh Google ini cocok diterapkan oleh perusahaan rintisan atau startup, dan pebisnis yang baru akan mengembangkan perusahaannya. Hal tersebut lebih karena perusahaan startup biasanya memiliki jumlah tim yang tidak banyak, serta cara berpikir yang lebih terbuka. Metode ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk menekan anggaran dalam mengembangkan produk.

Pindah ke DomaiNesia

Tertarik mendapatkan semua fitur layanan DomaiNesia?
Dapatkan Diskon Migrasi 25% serta GRATIS biaya migrasi & setup

Ya, migrasikan layanan saya!

Komentar