Jekyll vs Hugo: Pilih Static Site Generator Terbaik!
Hai DomaiNesians! Bingung memilih antara Jekyll vs Hugo untuk membangun website statismu? Tenang, kamu nggak sendiri. Memilih static site generator yang tepat bisa bikin proses pembuatan website jadi lebih cepat, efisien, dan pastinya lebih menyenangkan.
Di artikel ini, kami bakal bahas Jekyll vs Hugo dari berbagai sisi: kelebihan, kekurangan, kemudahan penggunaan, hingga tips memilih sesuai kebutuhan proyekmu. Dengan begitu, kamu bisa langsung tahu mana yang paling cocok tanpa harus coba-coba dulu.
Kalau kamu baru dengar istilah static site generator, sederhananya ini adalah alat yang mengubah file teks (Markdown, HTML, dll.) jadi website statis siap tayang. Kedengarannya simpel, tapi pemilihan generator yang tepat bisa mempengaruhi kecepatan build, fleksibilitas, dan bahkan skalabilitas website kamu ke depannya.
Nah, sebelum masuk ke perbandingan detail, mari kenalan dulu dengan masing-masing: Jekyll dan Hugo.

Apa Itu Jekyll dan Hugo?
Sebelum membandingkan Jekyll vs Hugo, penting buat tahu dulu apa itu masing-masing. Kedua static site generator ini populer banget di kalangan developer, tapi punya pendekatan yang sedikit berbeda.
Jekyll: Fitur dan Kelebihan
Jekyll adalah static site generator yang dibuat untuk integrasi mulus dengan GitHub Pages. Ini berarti kalau kamu mau hosting website secara gratis, Jekyll bisa langsung jalan tanpa ribet. Beberapa kelebihan Jekyll antara lain:
- Integrasi GitHub Pages – langsung deploy website dari repository GitHub.
- Sederhana untuk Blogging – cocok banget buat yang fokus membuat blog statis atau dokumentasi.
- Mendukung Liquid Templating – membuat kustomisasi layout jadi fleksibel.
- Komunitas Besar – banyak tutorial, plugin, dan tema yang bisa diakses gratis.
Kelebihan-kelebihan ini membuat Jekyll ideal buat proyek yang tidak terlalu kompleks tapi tetap ingin website statis profesional.
Hugo: Fitur dan Kelebihan
Hugo adalah static site generator yang terkenal karena kecepatannya luar biasa. Bahkan untuk website besar dengan ribuan halaman, Hugo bisa build website dalam hitungan detik. Beberapa kelebihan Hugo antara lain:
- Kecepatan Build Tinggi – proses kompilasi konten jadi website statis super cepat, jauh lebih cepat dibanding Jekyll.
- Bahasa Go – Hugo dibangun dengan bahasa Go, sehingga performa dan efisiensi memory lebih baik.
- Fleksibilitas Konten – mendukung berbagai format konten dan struktur folder yang kompleks.
- Ekosistem Tema Lengkap – banyak tema siap pakai yang bisa langsung dipakai atau dimodifikasi.
- Dukungan Multibahasa – cocok buat website global dengan berbagai bahasa.
Kalau dibandingkan, perbedaan utama Jekyll vs Hugo adalah fokusnya: Jekyll lebih cocok untuk blogging dan dokumentasi sederhana, sementara Hugo unggul untuk website besar yang butuh build speed tinggi dan fleksibilitas konten.
Perbandingan Jekyll vs Hugo
Memilih static site generator bukan hanya soal nama populer. Untuk proyek websitemu, kecepatan, kemudahan penggunaan, dukungan komunitas, dan fleksibilitas tema bisa membuat pengalaman membangun website jadi nyaman atau malah ribet. Di sinilah pentingnya membandingkan Jekyll vs Hugo secara mendalam, supaya kamu tahu generator mana yang paling cocok dengan kebutuhanmu.
1. Kecepatan Build
Hugo unggul banget di kecepatan build. Bahkan untuk website besar dengan ribuan halaman, Hugo bisa build dalam hitungan detik. Sementara Jekyll cenderung lebih lambat karena berbasis Ruby dan memproses halaman satu per satu.
Jika kamu butuh build speed super cepat, Hugo jadi pilihan utama.
2. Kemudahan Penggunaan
Jekyll dikenal ramah untuk pemula, terutama yang familiar dengan GitHub Pages. Setup-nya cukup sederhana dan banyak tutorial siap pakai. Hugo sedikit lebih teknis karena menggunakan bahasa Go, tapi setelah terbiasa, fleksibilitasnya sangat terasa.
Intinya, Jekyll lebih mudah dipelajari awalnya, Hugo lebih powerful setelah kamu terbiasa.

3. Komunitas dan Dukungan
Jekyll punya komunitas besar dan aktif, banyak tema, plugin, dan dokumentasi lengkap. Hugo juga punya komunitas solid, meski lebih kecil, tapi dokumentasinya sangat jelas dan banyak tema modern siap pakai.
Keduanya didukung komunitas aktif, jadi masalah troubleshooting jarang jadi hambatan.
4. Ekosistem Plugin / Tema
Jekyll punya banyak plugin dan tema gratis, tapi beberapa plugin membutuhkan Ruby tambahan. Hugo memiliki tema modern yang siap pakai, plus built-in features yang mengurangi kebutuhan plugin tambahan.
Kalau suka kustomisasi cepat tanpa banyak tambahan, Hugo sedikit lebih unggul.
5. Kemampuan Skalabilitas
Hugo cocok untuk proyek besar karena build cepat dan struktur kontennya fleksibel. Jekyll bisa skalabel, tapi butuh optimasi lebih untuk website dengan ratusan atau ribuan halaman.
Untuk website besar atau proyek multi-halaman, Hugo biasanya jadi pilihan yang lebih efisien.
Dengan melihat aspek-aspek ini, kamu bisa lebih mudah menentukan generator mana yang paling sesuai. Perbandingan Jekyll vs Hugo di atas memberi gambaran jelas soal kelebihan, kekurangan, dan skenario penggunaan masing-masing, sehingga keputusanmu tidak hanya berdasarkan tren, tapi juga kebutuhan nyata proyek websitemu.
Kapan Sebaiknya Memilih Jekyll vs Hugo?
Pilih Jekyll atau Hugo ternyata tidak hanya soal tren atau siapa yang lebih populer. Kuncinya ada di kebutuhan proyekmu sendiri. Yuk, bedah satu-satu biar gampang menentukan pilihan:
- Pilih Jekyll jika → Jekyll cocok banget untuk proyek sederhana seperti blog pribadi, portofolio, atau dokumentasi kecil. Setupnya mudah, langsung nyambung dengan GitHub Pages, jadi kamu bisa deploy tanpa ribet konfigurasi hosting. Misalnya, kalau kamu seorang blogger yang ingin mulai menulis tanpa pusing soal server, Jekyll bisa membuat prosesnya cepat dan praktis. Tipsnya, manfaatkan tema siap pakai dan plugin sederhana supaya tampilan blog lebih menarik tanpa harus coding terlalu banyak.
- Pilih Hugo jika → Hugo lebih pas untuk website berskala besar atau proyek multi-halaman, misal portal berita, website perusahaan, atau katalog produk. Kecepatannya dalam membangun halaman membuat update konten jadi tidak makan waktu. Contohnya, sebuah startup yang rutin menambahkan ratusan artikel bisa langsung build tanpa menunggu lama. Tipsnya, manfaatkan struktur konten Hugo yang fleksibel dan tema modern untuk memaksimalkan performa dan estetika website.
Kalau kamu masih bingung menentukan pilihan atau tidak punya waktu buat setup dan optimasi, tidak masalah. Kamu bisa langsung percayakan pembuatan websitemu dengan Jasa Membuat Website DomaiNesia. Mereka bakal bantu memilih generator yang paling sesuai dan memastikan websitemu siap tayang dengan hasil maksimal.
Singkatnya, proyek sederhana → Jekyll; proyek besar dan cepat update → Hugo. Dengan menyesuaikan pilihan generator sesuai kebutuhan, proses pembuatan website jadi lebih lancar, praktis, dan menyenangkan.

Pilih Generator yang Tepat dan Mulai Websitemu Sekarang!
Masih bingung milih antara Jekyll vs Hugo? Jangan pusing! Kuncinya cuma satu: sesuaikan dengan kebutuhan proyekmu. Jekyll cocok buat website sederhana, blog pribadi, atau dokumentasi kecil. Hugo lebih pas buat website besar, multi-halaman, dan update konten rutin.
Yang paling penting, jangan sampai teknis bikin kamu berhenti membangun website impian. Kalau ingin praktis dan hasil maksimal, serahkan saja ke Jasa Membuat Website DomaiNesia. Mereka akan bantu memilih generator yang tepat, setup, dan optimasi websitemu, jadi kamu tinggal fokus ke konten atau bisnis.
Sekarang waktunya bertindak! Pilih generator yang sesuai, mulai bangun websitemu, dan biarkan Jasa Membuat Website DomaiNesia mendukung perjalananmu dari awal hingga website siap tayang. Dengan begitu, prosesnya jadi cepat, efisien, dan tentu saja menyenangkan.