• Home
  • Berita
  • Supabase: Fitur, Cara Kerja, dan Opsi Self-Hosting

Supabase: Fitur, Cara Kerja, dan Opsi Self-Hosting

Oleh Fitri Aulia
Supabase: Fitur, Cara Kerja, dan Opsi Self-Hosting 1

Supabase menjadi salah satu pilihan backend yang banyak digunakan developer untuk membangun aplikasi tanpa harus menyiapkan seluruh komponen backend dari awal. Platform ini menggabungkan database PostgreSQL, autentikasi, storage, API, real-time, dan fungsi server-side dalam satu ekosistem.

Selain menggunakan layanan Supabase yang dikelola langsung oleh penyedia, developer juga memiliki opsi untuk menjalankan Supabase secara mandiri atau self-hosted. Fleksibilitas inilah yang membuat Supabase dapat digunakan mulai dari prototipe hingga aplikasi dengan kebutuhan infrastruktur yang lebih spesifik.

Apa Itu Supabase dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Supabase sebagai platform backend berbasis PostgreSQL

Supabase adalah platform pengembangan backend open-source yang dibangun dengan PostgreSQL sebagai database utamanya. Platform ini menyediakan sejumlah layanan yang umum dibutuhkan aplikasi, seperti database, autentikasi, storage, API, real-time data, dan Edge Functions.

Ketika project dibuat, Supabase menyediakan database PostgreSQL yang dapat dikelola melalui dashboard maupun query SQL. Developer tetap dapat menggunakan kemampuan PostgreSQL secara langsung, termasuk relational database, constraint, transaction, extension, dan berbagai fitur lainnya.

Supabase kemudian menyediakan API yang dapat digunakan aplikasi untuk berinteraksi dengan database. Jika ingin memahami konsepnya lebih lanjut, kamu juga dapat membaca pembahasan mengenai REST API di DomaiNesia.

Selain akses data, fitur Auth dapat menangani login dan manajemen pengguna. Sementara itu, Realtime memungkinkan aplikasi menerima perubahan data tanpa harus melakukan refresh halaman secara terus-menerus.

Dengan pendekatan tersebut, developer dapat lebih banyak berfokus pada frontend dan logika aplikasi dibanding membangun setiap komponen backend dari awal.

Fitur Utama Supabase untuk Pengembangan Aplikasi

Supabase menggabungkan beberapa komponen backend dalam satu platform. Masing-masing dapat digunakan sesuai kebutuhan aplikasi, sehingga developer tidak harus menggunakan seluruh layanan sekaligus.

Baca Juga:  Apa Itu Debugging? Proses, Manfaat, dan Tips Pemula

1. Database PostgreSQL

Setiap project Supabase menggunakan PostgreSQL. Developer dapat menjalankan query SQL, membuat relasi antar tabel, menggunakan transaction, menambahkan extension, hingga mengatur kebijakan akses data.

Jika ingin memahami pengelolaannya pada server Linux, kamu juga dapat mempelajari cara install PostgreSQL di Ubuntu.

2. Autentikasi Pengguna

Supabase Auth membantu aplikasi menangani proses autentikasi pengguna. Implementasinya dapat mencakup email dan password, magic link, OTP, maupun penyedia identitas pihak ketiga sesuai konfigurasi project.

Auth juga terintegrasi dengan PostgreSQL sehingga identitas pengguna dapat digunakan bersama kebijakan akses terhadap data aplikasi.

3. Realtime

Supabase menyediakan layanan Realtime untuk mengirim perubahan data kepada aplikasi secara langsung. Fitur ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti dashboard real-time, notifikasi, aplikasi kolaborasi, maupun fitur lain yang perlu merespons perubahan data dengan cepat.

4. Storage untuk File dan Media

Supabase Storage dapat digunakan untuk menyimpan file seperti gambar, video, dokumen, dan aset aplikasi lainnya.

Akses terhadap file dapat diatur menggunakan mekanisme otorisasi yang terintegrasi dengan Supabase Auth dan kebijakan akses sehingga file tidak harus selalu tersedia secara publik.

5. Edge Functions

Supabase menyediakan Edge Functions untuk menjalankan kode TypeScript di sisi server menggunakan runtime yang kompatibel dengan Deno.

Fitur ini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti menerima webhook, berkomunikasi dengan API pihak ketiga, mengirim email transaksional, menjalankan logika bisnis, atau menjadi lapisan antara frontend dengan layanan lain.

6. Dashboard untuk Mengelola Project

Supabase menyediakan dashboard berbasis web untuk mengelola database, autentikasi, storage, fungsi, log, dan berbagai konfigurasi project lainnya.

Keberadaan dashboard membantu mempercepat pengembangan karena banyak aktivitas administratif dapat dilakukan melalui antarmuka tanpa selalu menjalankan perintah secara manual.

Bagaimana Keamanan Data di Supabase?

PostgreSQL sebagai database utama Supabase

Keamanan aplikasi tidak hanya bergantung pada platform yang digunakan, tetapi juga pada bagaimana developer mengatur autentikasi, hak akses, secret, database, dan konfigurasi infrastrukturnya.

Supabase menyediakan sejumlah mekanisme yang dapat digunakan untuk membangun kontrol keamanan tersebut.

1. Row Level Security

Karena menggunakan PostgreSQL, Supabase dapat memanfaatkan Row Level Security atau RLS. Developer dapat menentukan policy yang mengatur data mana yang boleh dibaca, ditambahkan, diperbarui, atau dihapus oleh pengguna tertentu.

Baca Juga:  Pascal adalah: Tipe Data dan Penerapan Hukum Pascal

2. Autentikasi dan Otorisasi

Identitas pengguna yang dikelola melalui Supabase Auth dapat digabungkan dengan policy database sehingga akses data tidak hanya bergantung pada logika yang berjalan di frontend.

3. Pengelolaan API Key dan Secret

Developer perlu membedakan credential yang aman digunakan pada aplikasi client dengan secret yang hanya boleh digunakan pada lingkungan server. Secret administratif tidak boleh dimasukkan ke source code frontend yang dapat diakses pengguna.

4. Keamanan Infrastruktur

Pada implementasi self-hosted, tanggung jawab keamanan infrastrukturnya berada pada pengelola server. Konfigurasi firewall, HTTPS/TLS, update komponen, pengelolaan secret, backup, serta pembatasan akses jaringan perlu disiapkan dengan benar.

Supabase Managed atau Self-Hosted?

Supabase tidak harus selalu dijalankan dengan cara yang sama. Developer dapat menggunakan platform Supabase yang dikelola langsung atau menjalankan stack Supabase pada infrastruktur sendiri.

Supabase Managed

Pilihan managed cocok apabila developer ingin mulai dengan cepat tanpa harus mengelola sistem operasi, container, database server, jaringan, dan berbagai komponen infrastrukturnya secara langsung.

Pendekatan ini juga mempermudah developer yang ingin lebih banyak berfokus pada pengembangan aplikasi.

Supabase Self-Hosted

Karena bersifat open-source, Supabase juga dapat dijalankan pada server sendiri. Dokumentasi resmi Supabase menyediakan deployment menggunakan Docker dan Docker Compose pada Linux server atau VPS.

Jika belum familier dengan container, pelajari terlebih dahulu cara kerja Docker sebelum menerapkan Supabase secara mandiri.

Menurut dokumentasi Supabase, menjalankan seluruh komponen untuk development hingga workload produksi kecil-menengah membutuhkan setidaknya sekitar 2 CPU core, RAM 4 GB, dan SSD 40 GB. Konfigurasi yang direkomendasikan adalah 4 CPU core atau lebih, RAM minimal 8 GB, dan SSD 80 GB atau lebih.

Kebutuhan aktual tetap bergantung pada jumlah layanan yang dijalankan, traffic, ukuran database, workload aplikasi, dan konfigurasi masing-masing komponen.

Jika membutuhkan server yang dapat dikonfigurasi sendiri untuk eksperimen atau deployment Supabase self-hosted, kamu dapat melihat pilihan Cloud VPS DomaiNesia dan menyesuaikan resource server dengan kebutuhan stack yang akan dijalankan.

Mengapa Backend Open-Source Menarik bagi Developer?

Pengembangan aplikasi menggunakan backend open-source

Sumber: Magnific

Salah satu daya tarik Supabase adalah model open-source yang memberikan pilihan lebih luas kepada developer dalam menentukan bagaimana backend akan digunakan dan dijalankan.

Baca Juga:  Panduan Lengkap Ekstensi Joomla: Mudah dan Cepat!

1. Dapat Dipelajari Secara Terbuka

Source code yang terbuka memungkinkan developer mempelajari komponen platform, melihat implementasinya, serta memahami teknologi yang digunakan di balik layanan tersebut.

2. Fleksibel untuk Dikembangkan

Developer dapat mengintegrasikan Supabase dengan framework, API, aplikasi frontend, maupun layanan lain sesuai dengan arsitektur yang digunakan.

3. Tersedia Pilihan Self-Hosting

Self-hosting memberikan kontrol lebih besar terhadap server dan deployment. Namun, fleksibilitas tersebut juga berarti pengelola bertanggung jawab terhadap konfigurasi, keamanan, monitoring, update, dan backup infrastrukturnya.

4. Menggunakan Ekosistem PostgreSQL

Penggunaan PostgreSQL membuat developer tetap dapat memanfaatkan relational database yang telah memiliki ekosistem luas, bukan hanya database yang secara khusus dikembangkan untuk satu platform.

Kapan Supabase Cocok Digunakan?

Supabase dapat menjadi pilihan ketika aplikasi membutuhkan backend berbasis PostgreSQL tetapi developer ingin mempercepat proses pembangunan komponen seperti autentikasi, API, storage, atau fitur real-time.

Beberapa contoh penggunaannya meliputi:

  • Aplikasi web dan mobile dengan autentikasi pengguna.
  • Dashboard yang membutuhkan pembaruan data secara real-time.
  • SaaS berbasis PostgreSQL.
  • Prototype dan MVP yang perlu dikembangkan dengan cepat.
  • Aplikasi yang membutuhkan penyimpanan file dan pengaturan akses pengguna.
  • Project yang memerlukan opsi self-hosting pada infrastrukturnya sendiri.

Sebelum memilihnya, tetap pertimbangkan kebutuhan aplikasi, kompleksitas database, pola traffic, kebutuhan integrasi, kemampuan tim dalam mengelola infrastruktur, serta biaya operasional dalam jangka panjang.

Siapkan Server untuk Supabase Self-Hosted
Jalankan stack Supabase dengan kontrol server yang lebih fleksibel dan sesuaikan CPU, RAM, serta storage dengan kebutuhan aplikasi menggunakan Cloud VPS DomaiNesia.

Lihat Pilihan Cloud VPS DomaiNesia

Supabase Mempercepat Pengembangan Backend Modern

Supabase menggabungkan PostgreSQL dengan berbagai layanan backend seperti autentikasi, storage, real-time, API, dan Edge Functions sehingga developer tidak harus membangun seluruh komponen tersebut dari awal.

Pilihan antara Supabase managed dan self-hosted membuat platform ini fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Managed Supabase lebih praktis ketika ingin mengurangi pekerjaan pengelolaan infrastruktur, sedangkan self-hosting memberikan kontrol yang lebih luas tetapi membutuhkan kemampuan dalam mengelola server, Docker, jaringan, keamanan, monitoring, dan backup.

Jika memilih self-hosting, sesuaikan spesifikasi server dengan layanan Supabase yang digunakan dan workload aplikasi. Untuk yang baru mulai mengelola server sendiri, panduan cara menggunakan Cloud VPS untuk pemula dapat menjadi referensi sebelum melakukan deployment.

Fitri Aulia

Hi! I'm a tech enthusiast who loves digging into how things work, especially in web development, VPS setups, and anything open-source.


Berlangganan Artikel

Dapatkan artikel, free ebook dan video
terbaru dari DomaiNesia

{{ errors.name }} {{ errors.email }}
Migrasi ke DomaiNesia

Migrasi Hosting ke DomaiNesia Gratis 1 Bulan

Ingin memiliki hosting dengan performa terbaik? Migrasikan hosting Anda ke DomaiNesia. Gratis jasa migrasi dan gratis 1 bulan masa aktif!

Ya, Migrasikan Hosting Saya