• Home
  • Tips
  • 10 Editor Linux Yang Wajib Kamu Tahu untuk Pemula!

10 Editor Linux Yang Wajib Kamu Tahu untuk Pemula!

Oleh Mutiara Auliya
Editor Linux

Halo DomaiNesians! Pernah nggak sih kamu merasa bingung mau pakai editor Linux yang mana saat mulai ngoding? Dengan banyaknya pilihan editor Linux, kadang bikin pusing, apalagi buat pemula yang baru nyemplung di dunia Linux. Memilih editor Linux yang tepat itu penting supaya kamu bisa kerja lebih nyaman dan produktif.

Tenang, kamu nggak sendirian! Di artikel ini, kami bakal ngenalin 10 editor Linux yang wajib kamu tahu, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Dari yang sederhana sampai yang super powerfull, kami bantu kamu menemukan editor Linux yang paling cocok buat kebutuhanmu.

Editor Linux
Sumber: Canva

Apa itu Editor Linux?

Editor Linux adalah software yang dipakai buat menulis atau mengedit teks dan kode langsung di sistem operasi Linux. Meski terdengar simpel, editor Linux punya peran penting banget, terutama buat kamu yang kerja di dunia pemrograman, sysadmin, atau sekadar pengen ngedit file konfigurasi. Ada banyak pilihan editor Linux, mulai dari yang punya antarmuka grafis yang ramah pengguna, sampai yang berbasis teks dengan kekuatan penuh di terminal.

Kenapa banyak banget pilihan editor Linux? Karena tiap editor punya fitur dan keunggulan yang berbeda-beda, cocok untuk berbagai kebutuhan dan tingkat pengalaman. Jadi, mengenal berbagai editor Linux bakal bikin kamu lebih leluasa dan efektif dalam bekerja di lingkungan Linux.

10 Editor Linux: Pilih Yang Mana?

Menemukan editor Linux yang cocok kadang membingungkan, apalagi kalau kamu baru terjun ke dunia Linux atau lagi cari alat baru buat upgrade workflow codingmu. Nah, buat kamu yang bingung mulai dari mana, mari bahas dulu 10 editor Linux populer yang banyak dipakai, dari yang sederhana sampai yang fitur lengkap. Dengan mengenal berbagai editor Linux ini, kamu bisa mulai eksplorasi dan nemuin mana yang paling nyaman buat rutinitas harianmu.

1. Nano

Baru coba Linux dan pengen langsung edit teks tanpa pusing? Nano jawabannya. Tinggal buka dari terminal, kamu langsung bisa menulis tanpa harus hafal shortcut rumit dulu. Dibuka dari terminal, Nano tampil tanpa basa-basi: kamu langsung bisa mulai mengetik tanpa masuk ke mode aneh. Bagian bawah layar menampilkan semua shortcut penting, kayak ^X buat keluar atau ^O untuk menyimpan. Walau tidak secanggih Vim atau Emacs, Nano unggul di kepraktisan. Cocok buat edit file konfigurasi, crontab, atau buat ngoding skrip cepat, semua langsung dari SSH terminal.

Baca Juga:  Rekomendasi 10 Gem Ruby Terbaik untuk Rails 2025

Nano sering dipakai buat hal-hal simpel kayak mengedit file konfigurasi di /etc/hosts, .bashrc, atau .env di server. Praktis dan cepat, tanpa drama.

2. Vim

Vim adalah legenda hidup di dunia Unix/Linux. Pertama kali nyoba, banyak yang stres karena bingung gimana keluar (:q! jawabannya). Tapi kalau kamu sabar belajar, Vim bakal jadi alat produktivitas yang luar biasa. Dengan konsep modal editing, kamu bisa navigasi, hapus, copy, paste, dan manipulasi teks super cepat tanpa mouse. dd, yy, p, :s/pola/ganti/g, semuanya instan begitu muscle memory kamu kebentuk.

Salah satu nilai plus Vim adalah performanya yang super ringan, bahkan jalan mulus di perangkat lama kayak Raspberry Pi. Plus, dengan .vimrc dan plugin seperti NERDTree, fzf, atau coc.nvim, Vim bisa diubah jadi editor sekelas IDE.

đź’ˇ Pro tip: Gunakan Vim untuk proyek besar berbasis command-line yang butuh efisiensi tinggi dan file yang tersebar di banyak direktori.

3. Emacs

Di sisi lain dari “editor war”, ada Emacs, editor yang sering dijuluki OS dalam bentuk editor. Kenapa? Karena kamu bisa lakukan hampir semua hal di dalamnya: coding, buka terminal, manajemen file, baca email, bahkan main Tetris atau Snake.

Kelebihannya adalah ekosistem luas dan kemampuannya dikustomisasi pakai Emacs Lisp. Mau buat editor jadi Markdown previewer atau client IRC? Dengan org-mode, Emacs berubah jadi pusat produktivitas. Kamu bisa buat catatan bertingkat, kelola tugas, bahkan tracking waktu. Cocok banget buat pengguna yang suka struktur dan kerapian.

Cocok untuk: pengguna yang ingin mengintegrasikan coding, dokumen, dan manajemen produktivitas dalam satu jendela terminal.

4. Gedit

Gedit adalah editor teks GUI yang biasanya hadir bersama desktop environment GNOME. Meski tampilannya sederhana dan user-friendly, jangan salah, fiturnya lumayan kuat. Sebagai editor bawaan GNOME, Gedit dirancang simpel dan intuitif. Dukungan terhadap banyak bahasa pemrograman, serta fitur seperti line numbering dan pencarian langsung, bikin Gedit pas banget buat keperluan coding ringan atau catatan teknis.

Enaknya Gedit: pas buat developer front-end atau sysadmin yang sesekali butuh editor GUI ringan tapi enggan install IDE berat.

Baca Juga:  Cara Kali Linux: Kegunaan dan Panduan Instalasi

5. Geany

Geany adalah editor ringkas dengan fitur seperti IDE. Kamu bisa compile dan jalankan kode langsung dari interfacenya, lengkap dengan auto-completion, integrasi terminal, dan navigasi kode yang rapi. Editor ini mendukung lebih dari 50 bahasa pemrograman secara default.

Geany juga cocok untuk laptop spek rendah atau remote server dengan GUI. Buat kamu yang terbiasa pakai IDE tapi pengen versi ringan dan cepat, Geany bisa jadi sweet spot antara efisiensi dan fitur.

Ideal buat project kecil-menengah, Geany pas banget buat kamu yang menulis skrip Python, C, atau shell tanpa pengen ribet buka IDE besar. Semua fitur penting sudah tersedia tanpa bikin laptop ngos-ngosan.

Editor Linux
Sumber: Canva

6. Kate

Kate tampil sebagai editor khas KDE yang ringan tapi canggih. Ia mendukung banyak fitur power-user seperti split view, session restore, syntax highlight, dan Git integration langsung di dalam editor.

Yang paling bikin nyaman, Kate sangat ramah buat kamu yang suka multitasking dalam satu layar. Kamu bisa buka banyak file, cari-ganti teks dengan regex, atau debugging skrip sambil melihat outputnya langsung. Dan semua itu tanpa butuh resource besar.

Pas banget untuk: pengguna KDE atau siapa pun yang pengen editor GUI kaya fitur tapi tetap ringan dan responsif.

7. Sublime Text

Kalau kamu suka kecepatan dan tampilan bersih tanpa banyak distraksi, Sublime Text bisa jadi andalanmu. Editor ini bisa buka proyek besar secepat kilat tanpa lag, dan punya fitur “Goto Anything” (Ctrl + P) yang bikin navigasi file terasa seperti teleportasi.

Dengan Package Control, kamu bisa pasang ribuan plugin: dari auto-linter, tema gelap, sampai alat integrasi ke Docker dan Git. Ditambah multi-cursor editing dan command palette yang fleksibel banget, kamu bisa ngoding tanpa mouse.

Cocok banget dipakai kalau kamu sering buka banyak file sekaligus dan pengen editor yang tetap lincah meskipun proyeknya gede.

8. Atom

Atom (dari GitHub, kini disuntik mati ) pernah jadi editor open source paling dicintai. Editor ini dibangun di atas platform web (Electron), jadi tampilannya modern, responsif, dan gampang banget dikustomisasi sesuai gaya kerja kamu. Soal plugin? Banyak dan aktif berkembang! Mulai dari minimap, terminal, hingga kolaborasi real-time via Teletype.

Kelemahannya sih performa, karena pakai Electron, Atom bisa terasa berat, apalagi di mesin low-spec. Tapi untuk yang suka tampilan modern dan ingin ekosistem yang “developer-friendly”, Atom tetap jadi sejarah penting dalam evolusi editor.

Baca Juga:  Rekomendasi Laravel Package Terbaik untuk Boost Websitemu!

Legacy-nya tetap hidup: banyak fitur modern di VSCode dan editor lain terinspirasi dari Atom.

9. Visual Studio Code (VSCode)

VSCode adalah editor favorit sejuta umat. Dikembangkan oleh Microsoft, VSCode berhasil jadi middle ground sempurna: ringan seperti editor teks, tapi punya kekuatan IDE. Fitur andalannya termasuk IntelliSense (autocompletion cerdas), debugging langsung, Git integration, terminal bawaan, dan ribuan ekstensi.

Hampir semua bahasa bisa ditangani VSCode dengan lancar. Bahkan kamu bisa pakai Jupyter Notebook, connect ke container Docker, atau edit langsung di WSL/remote server, semua dari satu jendela.

Cocok banget buat developer zaman sekarang, baik yang kerja di front-end, back-end, DevOps, atau bahkan data science. Workspacenya fleksibel, integrasi tools-nya lengkap, dan performanya bisa diandalkan.

10. Neovim

Neovim adalah reinkarnasi modern dari Vim. Dibuat untuk memperbaiki keterbatasan arsitektur Vim lama, Neovim hadir dengan fitur seperti asynchronous plugin, konfigurasi lebih bersih, dan integrasi yang lebih ramah ke tooling modern (LSP, Treesitter, dll).

Buat fans berat Vim, Neovim adalah upgrade wajib. Pakai Neovim rasanya seperti upgrade dari Vim, semua shortcut tetap berfungsi, tapi performa lebih cepat dan plugin systemnya lebih kekinian. Editor ini pas banget buat power user terminal yang pengen fleksibilitas modern.

Dipakai saat: kamu butuh efisiensi terminal + tooling modern, tanpa kehilangan kecepatan khas Vim.

Editor Linux
Sumber: Canva

Pilih Editor Linux yang Pas untuk Kamu

Sekarang kamu sudah kenal dengan 10 editor Linux yang wajib kamu tahu, dari yang super sederhana sampai yang canggih dan penuh fitur. Pilihlah editor Linux yang paling cocok dengan kebutuhan dan gaya kerja kamu, apakah kamu butuh yang ringan dan cepat seperti Nano atau Leafpad, atau yang powerful dan fleksibel seperti Vim, Emacs, atau VSCode.

Beli Cloud VPS Murah

 

Mau kamu pengguna pemula atau sudah expert, ada editor Linux yang tepat untuk setiap level. Jangan takut untuk eksplorasi dan coba beberapa editor supaya kamu bisa menemukan “bestie” editing yang nyaman dan bikin produktivitas makin maksimal.

Butuh environment Linux yang kuat buat eksplorasi editor-editor ini? Coba VPS Murah dari DomaiNesia. Performa stabil, harga masuk akal, dan cocok buat coding, testing, atau setup dev server tanpa ribet.

Yuk, langsung cek dan coba layanan VPS Murah DomaiNesia sekarang, dan rasakan pengalaman terbaik untuk semua aktivitas coding kamu!

Mutiara Auliya

Hi! I am Data Analyst and Technical Writer at DomaiNesia. I love Linux, Python, Server, WordPress, Data Analysis and Artificial Intelligence. I will help you making some technically being easy to understand :)


Berlangganan Artikel

Dapatkan artikel, free ebook dan video
terbaru dari DomaiNesia

{{ errors.name }} {{ errors.email }}
Migrasi ke DomaiNesia

Migrasi Hosting ke DomaiNesia Gratis 1 Bulan

Ingin memiliki hosting dengan performa terbaik? Migrasikan hosting Anda ke DomaiNesia. Gratis jasa migrasi dan gratis 1 bulan masa aktif!

Ya, Migrasikan Hosting Saya

Hosting Murah

This will close in 0 seconds