• Home
  • Tips
  • Cara Praktis Pakai Object Storage di WordPress

Cara Praktis Pakai Object Storage di WordPress

Oleh Hazar Farras
Cara Praktis Pakai Object Storage di WordPress 1

Semakin banyak gambar produk, ilustrasi, dan dokumen yang kamu unggah ke WordPress, semakin besar kapasitas hosting yang digunakan. Kondisi ini bisa menjadi tantangan ketika website terus berkembang, terutama jika kamu mengelola toko online, portal berita, atau website dengan ribuan file media.

Salah satu cara mengelola kebutuhan tersebut adalah menggunakan object storage WordPress. Teknologi ini memungkinkan kamu menyimpan file media di layanan penyimpanan terpisah tanpa mengubah kebiasaan mengunggah gambar melalui Media Library WordPress.

Dengan bantuan plugin Advanced Media Offloader, kamu bisa menghubungkan WordPress ke layanan object storage yang mendukung protokol S3. Artikel ini akan membahas cara kerja, persiapan, konfigurasi, hingga langkah pengujian agar integrasi berjalan dengan baik.

Bagaimana Object Storage Mengoptimalkan Penyimpanan Media WordPress?

Setiap kali kamu mengunggah gambar melalui Media Library, WordPress menyimpan file tersebut pada direktori wp-content/uploads. WordPress juga dapat menghasilkan beberapa ukuran tambahan untuk kebutuhan thumbnail, gambar artikel, dan katalog produk WooCommerce.

Sebagai contoh, sebuah toko online memiliki 2.000 produk dengan lima gambar untuk setiap produk. Jika setiap gambar berukuran rata-rata 500 KB, file asli saja membutuhkan sekitar 5 GB penyimpanan. Kapasitas tersebut belum memperhitungkan thumbnail dan ukuran gambar tambahan yang dihasilkan WordPress.

Ketika jumlah media terus meningkat, pengelola website perlu mempertimbangkan kapasitas penyimpanan hosting. Dalam kondisi ini, object storage memungkinkan WordPress memisahkan lokasi penyimpanan media dari server yang menjalankan aplikasi.

Memisahkan Penyimpanan Media dari Server WordPress

Pada konfigurasi standar, hosting menjalankan aplikasi WordPress sekaligus menyimpan file yang diunggah pengguna. Ketika browser meminta gambar, file biasanya disajikan melalui infrastruktur hosting atau CDN yang sudah dikonfigurasi.

Dengan object storage, file media dapat disimpan dalam bucket terpisah dan diakses melalui URL khusus. Integrasi ini biasanya menggunakan plugin yang mendukung S3-compatible API, seperti Advanced Media Offloader.

Plugin tersebut menghubungkan Media Library dengan layanan penyimpanan eksternal. WordPress tetap mengelola informasi media dalam database, sedangkan object storage menyediakan tempat penyimpanan untuk file yang berhasil di-offload.

Perubahan yang Terjadi Setelah Media Dipindahkan

Penerapan object storage mengubah cara WordPress menyimpan dan menyajikan file media, tetapi tidak memindahkan seluruh komponen website. Berikut perbandingan kondisi sebelum dan sesudah integrasi.

Komponen Sebelum Integrasi Setelah Integrasi
Penyimpanan gambar Menggunakan kapasitas hosting. Dapat menggunakan kapasitas object storage.
Media Library Mengelola seluruh media WordPress. Tetap mengelola media seperti biasa.
URL gambar Umumnya menggunakan domain website. Dapat menggunakan URL object storage atau domain media.
Penyajian file Melalui hosting atau CDN. Dapat melalui object storage atau CDN.
Database dan plugin Berjalan pada infrastruktur WordPress. Tetap berjalan pada infrastruktur WordPress.
File lokal Tersimpan pada hosting. Dapat dipertahankan atau dibersihkan sesuai pengaturan plugin.

Perubahan tersebut memberikan fleksibilitas ketika jumlah media terus bertambah. Pengelola website dapat menyesuaikan kebutuhan kapasitas penyimpanan tanpa harus selalu meningkatkan paket hosting hanya untuk menampung file.

Selain itu, file media dapat disajikan langsung dari object storage atau melalui CDN yang kompatibel. Pendekatan ini membantu memisahkan permintaan file statis dari server aplikasi, meskipun dampaknya terhadap kecepatan website tetap bergantung pada konfigurasi dan kondisi jaringan.

Catatan: Proses offload tidak selalu menghapus file asli dari hosting. Penghematan kapasitas baru terjadi ketika salinan lokal dibersihkan sesuai kebijakan plugin, setelah file pada object storage berhasil diverifikasi.

Dengan pendekatan tersebut, object storage menjadi relevan bagi WordPress yang memiliki pertumbuhan media cukup tinggi. Namun, kebutuhan penerapannya tetap harus disesuaikan dengan aktivitas website, kapasitas hosting, dan cara pengunjung mengakses file.

Bagaimana Object Storage Bekerja di WordPress?

Integrasi object storage biasanya menggunakan plugin yang mendukung protokol Amazon S3 atau S3-compatible API. Protokol ini memungkinkan WordPress berkomunikasi dengan layanan penyimpanan untuk mengunggah, membaca, dan mengelola file.

Saat kamu mengunggah gambar melalui Media Library, plugin dapat menjalankan proses berikut.

  1. WordPress menerima gambar dan membuat ukuran tambahan sesuai kebutuhan tema atau plugin.
  2. Plugin mengirimkan file gambar beserta ukuran tambahannya ke bucket object storage.
  3. Layanan object storage menyimpan file tersebut sesuai konfigurasi akses.
  4. Plugin menyesuaikan URL media agar browser mengambil file dari alamat penyimpanan yang sudah ditentukan.
  5. WordPress tetap menyimpan informasi media dalam database sehingga kamu dapat mengelolanya melalui Media Library.

Bucket merupakan wadah penyimpanan yang digunakan untuk mengelompokkan objek dalam layanan object storage. Setiap bucket memiliki nama dan pengaturan akses yang menentukan bagaimana aplikasi dapat mengelola file.

Perlu dipahami bahwa proses offload tidak selalu langsung menghapus file dari hosting. Beberapa plugin menyediakan pilihan untuk mempertahankan salinan lokal atau menghapusnya setelah file berhasil dikirim ke object storage.

Object Storage WordPress

Kapan WordPress Membutuhkan Object Storage?

Tidak semua website WordPress membutuhkan object storage. Website dengan sedikit gambar dan kapasitas hosting yang masih mencukupi biasanya dapat menggunakan penyimpanan bawaan tanpa layanan tambahan.

Kebutuhan object storage mulai relevan ketika jumlah file media terus bertambah, kapasitas hosting semakin terbatas, atau pengelola website ingin memisahkan penyimpanan media dari server aplikasi.

Berikut beberapa contoh penggunaannya berdasarkan aktivitas website.

Jenis Website Kondisi Penggunaan Manfaat Object Storage
Toko online WooCommerce Mengelola ribuan produk dengan beberapa foto untuk setiap produk, termasuk variasi warna dan ukuran. Memisahkan penyimpanan katalog gambar dari hosting WordPress.
Blog dan portal berita Menerbitkan banyak artikel dengan gambar utama, ilustrasi, infografis, dan thumbnail. Mengelola pertumbuhan kapasitas media seiring penambahan konten.
Website kursus online Menyediakan banyak dokumen PDF, presentasi, dan materi pembelajaran. Menyediakan penyimpanan terpisah untuk materi pembelajaran dengan kontrol akses tambahan jika diperlukan.
Website portofolio fotografi Menampilkan galeri foto beresolusi tinggi untuk berbagai proyek dan klien. Menampung koleksi gambar tanpa seluruh file harus disimpan di hosting utama.
Website perusahaan Menyediakan katalog produk, brosur, laporan, dan dokumen publik. Memisahkan file dokumen dari aplikasi WordPress.
Website dengan trafik tinggi Melayani banyak permintaan gambar dan file statis selama kampanye atau promosi. Memungkinkan media disajikan dari object storage atau CDN tanpa seluruh permintaan melewati hosting.

Sebagai contoh, bayangkan kamu mengelola toko WooCommerce dengan 2.000 produk. Setiap produk mempunyai lima gambar dengan ukuran rata-rata 500 KB sehingga keseluruhan gambar asli membutuhkan sekitar 5 GB penyimpanan.

Kebutuhan sebenarnya bisa lebih besar karena WordPress dapat membuat beberapa ukuran gambar tambahan untuk thumbnail dan katalog. Ketika jumlah produk bertambah, file media tersebut akan menggunakan semakin banyak kapasitas hosting.

Dalam kondisi ini, object storage dapat menjadi pilihan untuk memisahkan penyimpanan gambar dari aplikasi WooCommerce. Namun, jika website hanya memiliki sedikit media, kamu bisa memprioritaskan kompresi gambar dan pengaturan cache sebelum menambahkan layanan penyimpanan.

Catatan: Perhitungan WooCommerce merupakan simulasi kebutuhan kapasitas, bukan batas minimum penggunaan object storage.

Persiapan Sebelum Menghubungkan WordPress ke Object Storage

Sebelum memasang plugin, kamu perlu menyiapkan layanan penyimpanan yang mendukung S3-compatible API. Pastikan layanan tersebut menyediakan informasi bucket, endpoint, serta kredensial akses yang diperlukan.

Dalam tutorial ini, kamu bisa menggunakan Object Storage DomaiNesia sebagai salah satu pilihan penyimpanan. Layanan tersebut mendukung protokol S3-compatible yang memungkinkan integrasi dengan aplikasi berbasis API S3.

Untuk membuat bucket dan kredensial akses, kamu dapat mengikuti panduan mengakses Object Storage DomaiNesia sebelum melanjutkan konfigurasi WordPress.

Informasi yang Perlu Disiapkan

Komponen Fungsi
Bucket Name Menentukan wadah penyimpanan file WordPress.
Endpoint URL Menunjukkan alamat API layanan object storage.
Access Key Mengidentifikasi kredensial aplikasi.
Secret Key Mengautentikasi permintaan akses.
Region Menentukan wilayah layanan apabila diperlukan.
Media URL Menentukan alamat untuk mengakses file yang sudah disimpan.

Pastikan kamu menggunakan kredensial dengan izin seperlunya. Hindari membagikan Secret Key melalui tangkapan layar atau halaman publik karena informasi tersebut dapat digunakan untuk mengakses penyimpanan.

Jika kamu membutuhkan layanan penyimpanan media terpisah, pertimbangkan Object Storage DomaiNesia yang mendukung protokol S3-compatible. Kamu bisa menyiapkan bucket terlebih dahulu sebelum mengikuti konfigurasi plugin berikut.

Cara Menggunakan Object Storage WordPress dengan Advanced Media Offloader

Advanced Media Offloader merupakan plugin WordPress yang dapat mengirimkan file dari Media Library ke layanan object storage. Plugin ini mendukung Amazon S3, Cloudflare R2, DigitalOcean Spaces, Wasabi, dan penyedia lain yang menggunakan API S3-compatible.

Salah satu keunggulannya adalah pengaturan koneksi dapat dilakukan langsung melalui dashboard WordPress. Dengan demikian, kamu tidak harus mengedit file wp-config.php untuk konfigurasi dasar.

Berikut langkah implementasinya.

1. Install Plugin Advanced Media Offloader

Pertama, login ke dashboard administrator WordPress menggunakan akun yang memiliki izin mengelola plugin.

Selanjutnya, ikuti langkah berikut.

  1. Buka menu Plugins → Add New Plugin.
  2. Cari plugin Advanced Media Offloader.
  3. Pilih plugin dari pengembang Masoud Golchin.
  4. Klik Install Now, kemudian pilih Activate.
  5. Buka menu Media Offloader yang muncul setelah plugin aktif.

Cara install plugin Advanced Media Offloader pada WordPress

Setelah aktivasi berhasil, kamu dapat mengakses halaman pengaturan plugin untuk menambahkan koneksi object storage.

2. Hubungkan Plugin dengan Object Storage

Buka menu Media Offloader untuk mengatur layanan penyimpanan yang akan digunakan.

Jika menggunakan layanan S3-compatible yang tidak tercantum sebagai penyedia khusus, periksa opsi koneksi MinIO atau custom S3-compatible yang tersedia pada versi plugin. Opsi tersebut dapat digunakan untuk menghubungkan layanan dengan endpoint S3 khusus apabila konfigurasi penyedia didukung.

Memilih koneksi S3-compatible pada Advanced Media Offloader

Selanjutnya, masukkan informasi koneksi sesuai data yang tersedia pada dashboard layanan object storage.

  • Access Key: Kunci identitas aplikasi untuk mengakses penyimpanan.
  • Secret Key: Kunci rahasia yang digunakan untuk autentikasi.
  • Bucket Name: Nama bucket tempat media WordPress akan disimpan.
  • Endpoint URL: Alamat API penyedia object storage.
  • Region: Wilayah layanan jika diperlukan dalam konfigurasi.

Mengisi kredensial dan endpoint object storage WordPress

Gunakan endpoint resmi yang diberikan penyedia layanan. Untuk Object Storage DomaiNesia, pastikan alamat endpoint dan pengaturan akses mengikuti informasi pada dashboard layanan yang digunakan.

Pengaturan tambahan koneksi object storage S3-compatible

Setelah seluruh informasi terisi, simpan pengaturan koneksi dan jalankan fitur pengujian koneksi yang tersedia pada plugin.

Jika pengujian gagal, periksa kembali endpoint, kredensial, izin bucket, dan region yang digunakan. Hindari melanjutkan proses offload sebelum plugin berhasil berkomunikasi dengan layanan penyimpanan.

Catatan: Dukungan S3-compatible pada DomaiNesia dan Advanced Media Offloader merupakan dasar integrasi. Namun, kombinasi keduanya tetap perlu diuji secara langsung, termasuk pengaturan endpoint dan akses publik media.

3. Atur Penyimpanan File Media

Setelah koneksi berhasil, tentukan bagaimana plugin menangani salinan file media pada hosting WordPress. Advanced Media Offloader menyediakan beberapa kebijakan penyimpanan lokal yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan website.

Pengaturan Cara Kerja
Retain Local Files Mempertahankan salinan lokal setelah file dikirim ke object storage.
Smart Local Cleanup Membersihkan salinan lokal tertentu sesuai kebijakan plugin sambil mempertahankan file yang diperlukan.
Full Cloud Migration Menghapus salinan lokal yang memenuhi syarat setelah proses offload berhasil.

Untuk tahap pengujian awal, kamu dapat memilih Retain Local Files. Pengaturan tersebut memungkinkan kamu memeriksa hasil offload tanpa langsung menghapus file dari hosting.

Setelah seluruh media berhasil diverifikasi dan backup tersedia, kamu dapat mempertimbangkan Smart Local Cleanup untuk mengurangi penggunaan kapasitas penyimpanan lokal.

Pengaturan penyimpanan media lokal pada Advanced Media Offloader

Hindari langsung menggunakan Full Cloud Migration pada website produksi. Periksa terlebih dahulu apakah gambar asli, thumbnail, dan file lainnya dapat diakses dari object storage.

4. Unggah dan Offload Media WordPress

Setelah konfigurasi selesai, buka menu Media → Add New Media File untuk mengunggah satu gambar percobaan.

Jika automatic offload sudah aktif, plugin akan mengirimkan file baru ke object storage sesuai pengaturan yang dibuat.

Untuk memindahkan media lama, buka halaman Media Offloader → Media Overview. Kamu dapat menjalankan proses offload untuk file tertentu melalui tindakan Offload Now apabila tersedia pada versi plugin yang digunakan.

Cara menjalankan offload media WordPress ke object storage

Sebaiknya kamu memulai pengujian menggunakan satu gambar terlebih dahulu. Setelah proses berhasil, periksa status media dan pastikan file sudah tersedia di bucket object storage.

Jika hasil pengujian sesuai, kamu dapat melanjutkan proses offload terhadap koleksi media lainnya secara bertahap.

5. Periksa URL dan Tampilan Media

Setelah file berhasil di-offload, buka halaman WordPress yang menampilkan gambar tersebut. Klik kanan pada gambar, kemudian pilih Open Image in New Tab untuk memeriksa alamat file yang digunakan.

Kamu juga dapat menggunakan fitur Inspect pada browser untuk melihat sumber file media. Jika pengalihan URL berhasil, gambar akan menggunakan alamat object storage atau domain media yang sudah dikonfigurasi.

Selanjutnya, lakukan pemeriksaan berikut.

  • Pastikan gambar dapat diakses tanpa kesalahan 403 atau 404.
  • Periksa tampilan thumbnail pada artikel dan katalog produk.
  • Uji gambar menggunakan perangkat desktop dan mobile.
  • Pastikan file media lama tetap tersedia setelah proses offload.
  • Periksa apakah gambar baru otomatis tersimpan di object storage.

Apabila gambar tidak muncul, periksa kembali akses bucket, pengaturan URL, dan konfigurasi plugin. Jangan menghapus salinan lokal sebelum seluruh file berhasil diverifikasi.

Cara Mengukur Dampak Object Storage terhadap WordPress

Setelah integrasi berhasil, kamu perlu memeriksa apakah perubahan penyimpanan memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan website. Pengukuran juga membantu kamu mengetahui apakah perubahan tersebut memengaruhi waktu pemuatan halaman.

Gunakan Google PageSpeed Insights atau GTmetrix untuk membandingkan performa halaman sebelum dan sesudah integrasi.

  • Largest Contentful Paint (LCP): Mengukur waktu hingga elemen konten terbesar ditampilkan pada area tampilan.
  • Media response time: Mengukur waktu respons ketika browser meminta gambar atau file media.
  • Total page weight: Menunjukkan jumlah data yang perlu diunduh browser untuk menampilkan halaman.
  • Storage usage: Menunjukkan perubahan kapasitas hosting setelah kebijakan pembersihan file lokal diterapkan.

Gunakan halaman yang sama dan lakukan beberapa kali pengujian agar hasilnya lebih representatif. Perhatikan juga perbedaan kondisi jaringan, cache, serta lokasi server pengujian.

Object storage tidak otomatis mengurangi ukuran gambar yang disimpan. Kamu tetap perlu menggunakan kompresi, format gambar yang sesuai, dan pengaturan cache untuk meningkatkan efisiensi pemuatan halaman.

Untuk website dengan pengunjung dari berbagai wilayah, CDN dapat membantu mendistribusikan media melalui server yang lebih dekat dengan pengguna. Pastikan CDN yang dipilih kompatibel dengan alamat media serta kebijakan akses object storage.

🚀

Kelola Media WordPress dengan Penyimpanan yang Lebih Fleksibel

Pisahkan penyimpanan gambar, katalog produk, dan dokumen dari hosting utama menggunakan Object Storage DomaiNesia yang mendukung S3-compatible API.

Coba Object Storage Sekarang!

Hal Penting Sebelum Menggunakan Object Storage

Object storage membantu pengelola WordPress mengatur kapasitas penyimpanan dengan lebih fleksibel. Namun, implementasinya tetap memerlukan perhatian terhadap beberapa aspek berikut.

1. Biaya Penyimpanan dan Transfer Data

Periksa biaya layanan, kapasitas yang tersedia, serta ketentuan penggunaan bandwidth. Pertimbangkan jumlah media dan frekuensi akses pengunjung sebelum menentukan kebutuhan penyimpanan.

2. Kompatibilitas Plugin dan Layanan Storage

Pastikan plugin mendukung endpoint serta metode autentikasi yang digunakan penyedia layanan. Dukungan S3-compatible tidak selalu menjamin seluruh konfigurasi berjalan tanpa penyesuaian.

3. Keamanan Akses Media

Gunakan kredensial dengan izin minimum yang diperlukan. Jika website menyimpan dokumen privat atau materi pelanggan, pastikan plugin dan penyedia storage mendukung mekanisme akses terbatas yang sesuai.

4. Migrasi dan Penghapusan File Lokal

Lakukan migrasi secara bertahap dan pertahankan salinan lokal selama proses pengujian. Penghapusan file lokal sebaiknya dilakukan setelah kamu memastikan seluruh media bisa diakses melalui object storage.

5. Backup dan Pemulihan Data

Object storage bukan pengganti backup. Siapkan cadangan database, file WordPress, dan media melalui mekanisme terpisah agar website dapat dipulihkan ketika terjadi masalah.

Jika tujuanmu adalah menyimpan salinan backup WordPress, kamu dapat mempelajari panduan integrasi Object Storage dengan WordPress menggunakan UpdraftPlus. Panduan tersebut membahas kebutuhan backup, sedangkan Advanced Media Offloader digunakan untuk mengelola penyimpanan file Media Library.

Baca Juga:  10+ Ide dan Peluang Usaha Rumahan yang Menjanjikan Banyak Cuan

Kelola Media WordPress dengan Object Storage

Object storage WordPress membantu kamu memisahkan penyimpanan gambar, video, dan dokumen dari server hosting utama. Pendekatan ini cocok untuk website yang memiliki koleksi media terus bertambah, terutama toko online, portal konten, dan website perusahaan.

Dengan Advanced Media Offloader, kamu dapat menghubungkan WordPress ke layanan S3-compatible melalui dashboard, mengatur cara penyimpanan file, dan memindahkan media tanpa harus mengubah alur kerja Media Library.

Mulailah dengan menguji satu gambar, memastikan koneksi dan URL media berfungsi, kemudian melanjutkan migrasi secara bertahap. Dengan konfigurasi yang tepat serta strategi backup yang jelas, pengelolaan media WordPress menjadi lebih fleksibel dan terukur.

Hazar Farras

Hi ! I'm a Technical Content Specialist in DomaiNesia. Passionate about challenges, technology enthusiast, and dedicated K-pop lover always exploring new horizons and trends


Berlangganan Artikel

Dapatkan artikel, free ebook dan video
terbaru dari DomaiNesia

{{ errors.name }} {{ errors.email }}
Migrasi ke DomaiNesia

Migrasi Hosting ke DomaiNesia Gratis 1 Bulan

Ingin memiliki hosting dengan performa terbaik? Migrasikan hosting Anda ke DomaiNesia. Gratis jasa migrasi dan gratis 1 bulan masa aktif!

Ya, Migrasikan Hosting Saya

Hosting Nimbus Plus