Cara Cepat Deploy Laravel Project di Docker
DomaiNesians mau punya project Laravel yang rapi, clean, dan mudah dikontrol? Nah, pakai Docker jadi salah satu cara praktis buat menjalankan Laravel tanpa ribet memikirkan environment lokal yang suka beda-beda. Di sini kita bakal bahas bagaimana cara deploy Laravel dengan Docker, agar semua service seperti PHP, Nginx, dan MySQL bisa jalan bareng dalam satu ekosistem container. Yuk, kita mulai setup-nya!
Apa Itu Laravel?
Laravel adalah salah satu framework PHP yang paling populer dan friendly untuk developer. Framework ini dipakai untuk membuat aplikasi web yang rapi, modern, dan mudah di-maintain. Laravel punya banyak fitur bawaan yang mempermudah developer, seperti routing, autentikasi, database migration, templating dengan Blade, sampai queue system.
Selain itu, Laravel juga punya ekosistem yang kuat, sepert Laravel Sail, Laravel Mix, Jetstream, dan masih banyak lagi. Jadi, kalau DomaiNesians mau mengembangkan aplikasi PHP yang scalable dan clean, Laravel bisa jadi pilihan utama.
Kelebihan & Kekurangan Laravel dengan Docker
Sebelum memutuskan untuk menggunakan Docker dalam pengembangan aplikasi Laravel, penting untuk memahami bagaimana integrasi keduanya dapat memengaruhi workflow. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangannya:
Kelebihan Laravel dengan Docker
1. Consistency Antara Dev dan Prod
Dengan Docker, kamu bisa pastikan environment development di lokal dengan yang ada di production server itu sama persis. Jadi, tidak ada lagi drama aplikasi jalan di dev tapi error di prod.
2. Portabilitas
Docker container bisa jalan di berbagai environment. Mau pindah dari laptop ke server, atau dari lokal ke cloud, tinggal push container-nya, semuanya akan jalan tanpa masalah.
3. Clean dan Terorganisir
Setiap komponen aplikasi (seperti PHP, MySQL, Nginx) bisa jalan di container terpisah, jadi lebih mudah mengelola dan maintain. Misalnya, mau upgrade PHP atau database? Cukup rebuild container-nya tanpa ganggu yang lain.
4. Memudahkan Scaling
Kalau website Laravel berkembang dan butuh lebih banyak resource, Docker mempermudah scaling. Kamu hanya perlu tambah container sesuai kebutuhan.
5. Fleksibel
Docker memungkinkan kamu untuk pakai berbagai versi PHP atau database dalam container yang berbeda. Jadi, kamu bisa eksperimen tanpa takut merusak environment utama.
Kekurangan Laravel dengan Docker
1. Kompleksitas Setup
Bagi pemula, setup Docker untuk Laravel bisa jadi agak rumit, terutama kalau tidak terbiasa dengan konsep container. Harus paham Dockerfile, Compose, dan pengaturan network-nya.
2. Performa
Walaupun Docker sangat efisien, container tetap punya sedikit overhead dibandingkan aplikasi yang berjalan langsung di host. Hal ini bisa sedikit mempengaruhi performa, meski tidak signifikan untuk kebanyakan aplikasi kecil.
3. Debugging Lebih Sulit
Kalau ada masalah di container, debugging bisa sedikit lebih sulit karena kamu harus masuk ke dalam container dan cek log-nya. Hal ini mungkin agak lebih repot dibandingkan aplikasi yang langsung dijalankan di sistem lokal.
Persiapan Sebelum Deploy
Sebelum mulai menjalankan Laravel di Docker, pastikan dulu beberapa hal ini udah siap:
- Docker & Docker Compose udah ke-install
Kalo belum, install dulu ya. Bisa cek versi Docker pake docker โversion, dan docker compose version buat pastikan Compose-nya juga ada.
- Project Laravel yang udah ready
Kamu bisa pake project Laravel yang udah ada, atau buat baru dengan laravel new nama-project.
- Folder kerja yang rapi
Biar tidak bingung, siapkan folder khusus buat simpan semua file konfigurasi Docker seperti Dockerfile, docker-compose.yml, dan lain-lain.
Build Laravel Project di Container
- Clone Laravel project ke lokal
Kalau project kamu ada di GitHub (atau Git lain), clone dulu ke direktori kerja:
|
1 2 |
git clone https://github.com/namakamu/laravel-project.git cd laravel-project |
- Jalanin container PHP dan mount Laravel-nya
|
1 2 3 4 5 6 |
code>docker run -d \ ย ย --name php-laravel \ ย ย -v $(pwd):/var/www/html \ ย ย -w /var/www/html \ ย ย -p 8000:8000 \ ย ย php:8.2-cli |
- Masuk ke container
|
1 |
docker exec -it php-laravel bash |
- Install Composer (kalau belum ada)
|
1 2 |
curl -sS https://getcomposer.org/installer | php mv composer.phar /usr/local/bin/composer |
- Install dependency Laravel
|
1 |
composer install |
- Set permission folder
|
1 |
chmod -R 775 storage bootstrap/cache |
- Copy .env & generate key
|
1 2 |
cp .env.example .env php artisan key:generate |
- Jalankan Laravel
|
1 |
php artisan serve --host=0.0.0.0 --port=8000 |
Setelah project laravel berhasil dijalankan akan muncul tampilan seperti ini:
Troubleshooting
Kadang saat deploy Laravel di Docker, semuanya terlihat oke, tapi ternyata error di mana-mana. Nah, ini beberapa masalah umum yang sering terjadi dan cara mengatasinya:
1. Failed Start Laravel
Biasanya karena belum install dependensi. Coba masuk ke container PHP kamu dan jalankan:
|
1 |
composer install |
Atau bisa juga karena permission file Laravel belum diatur. Jalankan:
|
1 |
chmod -R 775 storage bootstrap/cache |
2. 404 Not Foundย
Kemungkinan besar document root Nginx kamu belum diarahkan ke public/. Cek file konfigurasi Nginx-nya di Docker dan pastikan baris ini ada:
|
1 |
root /var/www/html/public; |
3. Laravel Gagal Connect ke MySQL
Cek lagi DB_HOST di file .env kamu. Kalau kamu pakai Docker Compose, DB_HOST-nya harus sesuai dengan nama service MySQL di docker-compose.yml, misalnya:
|
1 |
DB_HOST=mysql |
4. Error permissionย
Masuk ke container PHP, terus coba jalanin perintah artisan-nya dari sana. Kadang masalahnya karena file .env atau direktori storage belum bisa diakses Laravel. Coba:
|
1 2 |
php artisan config:clear php artisan cache:clear |
5. Nginx/Apache error 502 Bad Gateway
Ini biasanya karena container PHP belum jalan atau belum connect ke Nginx. Cek di docker-compose.yml apakah service PHP dan Nginx udah di-link, dan port-nya cocok.
Tips Deploy Laravel di Docker Biar Makin Lancar
Supaya proses deploy Laravel di Docker lancar dan tidak banyak masalah, ini beberapa tips simpel tapi berguna yang bisa kamu coba:
- Gunakan .env yang konsisten
Pastikan file environment kamu sesuai antara local dan production. Hindari typo di DB config karena bisa buat Laravel gagal connect. - Jangan lupa permission folder penting
Folder storage/ dan bootstrap/cache wajib punya permission yang benar. Kalau tidak, Laravel bisa error saat simpan cache/log. - Gunakan volume untuk pengembangan
Supaya kamu bisa edit file di host dan langsung ke-sync ke container. Memudahkan debug dan coding tanpa rebuild terus. - Cek log kalau ada error
Pakai docker logs buat lihat error di container. Ini bisa membantu saat troubleshoot Laravel yang blank atau error 500. - Buat alias Docker command
Biar tidak ketik panjang-panjang, kamu bisa bikin alias di terminal buat command yang sering dipakai, seperti php artisan via Docker. - Jangan lupa backup sebelum rebuild
Terutama kalau sudah connect ke database, pastikan kamu backup data dulu sebelum rebuild/restart container.
Kesimpulan
Deploy Laravel di Docker tuh tidak sesulit yang dibayangin kok. Asal sudah mengerti alurnya, semua tinggal atur container aja. Mulai dari setup project, connect database, sampai running Laravel di browser bisa DomaiNesians atur dengan lebih rapi dan fleksibel lewat Docker. Cocok banget buat yang pengen environment dev dan production tetap konsisten.
Tapi jangan lupa, performa Laravel kamu juga bakal bergantung sama server tempat dia dijalanin. Nah, kalau kamu pengen performa yang stabil, akses cepat, dan bisa jalanin banyak container tanpa ngelag, mending langsung upgrade ke Cloud VPS Domainesia. Selain fleksibel, kamu juga bebas install Docker, custom stack, dan deploy Laravel kapan pun kamu mau. Jadi nggak cuma praktis, tapi juga powerful!

