Revolusi Industri 4.0 Indonesia Utamakan Manufaktur5 min read

Salah satu visi dari Presiden Jokowi adalah membuat Indonesia menjadi negara maju. Visi tersebut beliau realisasikan dengan mengusung revolusi industri 4.0. Tahun 2018 lalu, Presiden Jokowi sudah membuat peta jalan revolusi industri 4.0 bernama Making Indonesia 4.0, dan peta jalan ini sudah dijadikan agenda nasional. Perubahan yang dihasilkan oleh revolusi industri 4.0 akan membawa Indonesia ke model bisnis baru. Seperti yang telah disampaikan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto, sektor yang diperkirakan memiliki daya saing dan nilai tambah adalah industri manufaktur. Untuk bisa berkompetisi dengan negara lain, tentu Indonesia harus membuat produk yang efisien dan berkualitas, untuk itu diperlukan integrasi konektivitas, teknologi, informasi dan komunikasi.

Bagaimana Revolusi Industri Membawa Pertumbuhan Ekonomi?

revolusi industri 4.0

Sumber: Pixabay

Jawabannya adalah dengan mengembangkan lima sektor yang memiliki daya saing regional. Kelima sektor tersebut adalah makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. Kelima sektor dipilih setelah melewati evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi. Strategi yang dilakukan oleh sektor-sektor tersebut akan ditinjau kembali setiap tiga atau empat tahun untuk melihat kemajuan dan memberi solusi di setiap permasalahannya.

  1. Food and Beverages Powerhouse di ASEAN

    Sektor makanan dan minuman di Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena pada dasarnya Indonesia adalah negara dengan sumber daya pertanian yang berlimpah. Permintaan dari dalam negeri pun besar. Strategi untuk makanan dan minuman 4.0 adalah, pertama, mendorong produktivitas dengan menerapkan teknologi seperti monitoring otomatis atau autopilot drones. Kedua, mengadopsi teknologi untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Ketiga, fokus pada makanan kemasan dan akan berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan serta permintaan dalam negeri dan meningkatkan ekspor.

  2. Goal: Produsen Functional Clothing yang Unggul

    Sektor tekstil dan pakaian merupakan sektor yang berkontribusi ekspor terbesar kedua di Indonesia. Harapannya, dengan mengadopsi fourth industrial revolution (4IR), sektor ini juga dapat meningkatkan daya saing di pasar global. Strategi untuk menjadi produsen functional clothing adalah pertama, fokus pada bahan dengan biaya lebih rendah dan memiliki kualitas tinggi. Kedua meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan kemampuan memproduksi pakaian yang fungsional. Ketiga, mampu memenuhi permintaan yang terus berkembang, di pasar dalam maupun luar negeri.

  3. Otomotif Terkemuka Dalam Ekspor ICE dan EV

    Investasi yang kuat dari berbagai perusahaan otomotif, Indonesia diharapkan mampu menjadi produsen mobil terbesar di ASEAN. Saat ini Indonesia sedang fokus dalam pengembangan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), dan diharapkan meningkat pada tahun 2020. Strategi untuk mendukung otomotif 4.0 adalah, pertama meningkatkan produksi, baik volume maupun bahan baku. Kedua, meningkatkan ekspor, banyak bekerja sama dengan perusahaan OEM. Dan ketiga, membuat ekosistem untuk memproduksi EV

  4. Menjadi yang Terdepan di Industri Biokimia

    Sektor ini merupakan dasar dari industri manufaktur, karena digunakan secara luas oleh sektor lain seperti elektronika, farmasi, dan otomotif. Oleh karena itu, penguatan di sektor ini sangat penting dilakukan. Tujuan penguatan di sektor ini salah satunya adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai net eksportir dan produsen bahan kimia spesialis. Strategi untuk kimia 4.0 adalah pertama, pembangunan petrokimia yang mandiri untuk mengurangi aktivitas impor. Kedua, pembangunan industri kimia sehingga mampu menghasilkan produk dengan biaya yang kompetitif. Dan ketiga, mengembangkan produksi kimia generasi selanjutnya, yaitu biofuel dan bioplastik.

  5. Meningkatkan Kemampuan Pelaku Industri Elektronik

    Produksi elektronik dalam negeri masih dalam tahap perakitan sederhana, belum ada dalam proses yang memberi nilai tambah. Strategi untuk elektronik 4.0 adalah pertama, meraih pemain global dengan memberikan insentif yang menarik. Kedua mengembangkan skill memproduksi barang yang berkualitas. Ketiga, mengembangkan SDM dalam negeri dengan memberikan pelatihan. Dan keempat, mendorong pelaku industri untuk memberikan inovasi lanjutan dan mempermudah transfer teknologi.

Baca juga: Cara Memulai Bisnis Online Shop Baju

Revolusi Industri 4.0 Mengandalkan Internet of Things

revolusi industri 4.0

Sumber: Pixabay

Industri 4.0 erat kaitannya dengan internet of things (IoT), artificial intelligence (AI), human-machine interface, teknologi robot dan sensor, serta 3D. Maka dalam menjalankan peta revolusi industri, Making Indonesia 4.0 juga akan membutuhkan infrastruktur serta teknologi informasi dan komunikasi seperti yang telah disebutkan di atas. Internet of things adalah hal yang berkaitan dengan perangkat fisik, peralatan rumah tangga, software, konektivitas, dan semua barang yang mengadopsi barang elektronik. Barang-barang tersebut terhubung dengan internet dan memungkinkan adanya pertukaran data. Pemerintah sendiri mengaku siap mendukung terciptanya ekosistem internet of things. Dukungan tersebut salah satunya adalah dengan menyesuaikan undang-undang sehingga mempermudah regulasi. Pemerintah inisiatif dalam membantu mengembangkan ekosistem dan model bisnis internet of things.

McKinsey and Company, perusahaan di bidang konsultan global mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia melakukan Triple Transformation, yaitu proses bisnis, teknologi, dan organisasi demi mencapai industri 4.0. Karel Eloot, Senior Partner and Leader Asia di McKinsey and Company mengatakan mengagendakan revolusi industri 4.0 merupakan langkah yang positif, langkah yang akan membawa Indonesia ke jenjang selanjutnya. Survey yang dilakukan oleh McKinsey and Company menemukan bahwa 79 persen pemimpin bisnis di negara manufaktur sedang optimis pada apa yang akan dihasilkan oleh revolusi industri. Meskipun demikian, masih sedikit perusahaan yang benar-benar menerapkan industri 4.0, masih sekitar 87 persen sisanya masih menerapkan industri 3.0.

Ada enam faktor tantangan menurut Mckinsey, yaitu kesulitan membuat peta jalan, data-data masih tersimpan terpisah, kurangnya SDM yang ahli digital, sulit menemukan contoh proyek yang jelas, kurangnya pengetahuan tentang infrastruktur, yang terakhir adalah kekhawatiran pada cyber security. Jalan menuju industri 4.0 memang terbuka lebar, namun tantangan akan terus ada dan harus dihadapi.

Baca juga: 7 Strategi Pemasaran Produk Makanan

Kesimpulan

Presiden Jokowi mengagendakan revolusi industri 4.0 sebagai agenda nasional. Revolusi industri 4.0 di Indonesia akan memfokuskan pengembangan di bidang manufaktur, khususnya di lima bidang, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. Internet of Things akan menjadi backbone dalam era ini. Menurut McKinsey and Company, langkah Indonesia sudah ada di jalur yang benar karena akan memberi dampak positif dan membawa Indonesia ke jenjang selanjutnya.

Pindah ke DomaiNesia

Tertarik mendapatkan semua fitur layanan DomaiNesia?
Dapatkan Diskon Migrasi 25% serta GRATIS biaya migrasi & setup

Ya, migrasikan layanan saya!