• Home
  • Berita
  • Apa Itu Zero Trust? Prinsip, Cara Kerja, dan Penerapannya

Apa Itu Zero Trust? Prinsip, Cara Kerja, dan Penerapannya

Oleh Adisty C. Putri
Apa Itu Zero Trust? Prinsip, Cara Kerja, dan Penerapannya 1

Daftar Isi

Perubahan cara kerja, penggunaan layanan cloud, serta semakin banyaknya perangkat dan aplikasi yang terhubung membuat batas jaringan organisasi tidak lagi sesederhana dulu. Pengguna dapat mengakses sistem dari kantor, rumah, perangkat pribadi, atau lokasi lain. Dalam kondisi seperti ini, menganggap semua aktivitas di dalam jaringan sebagai aktivitas yang aman dapat membuka celah keamanan.

Zero Trust hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Model ini tidak memberikan kepercayaan secara otomatis hanya karena pengguna, perangkat, atau aplikasi sudah berada di dalam jaringan. Setiap permintaan akses harus diperiksa berdasarkan identitas, kondisi perangkat, konteks, tingkat risiko, dan hak akses yang dimiliki.

Zero Trust bukan satu produk yang dapat dipasang sekali lalu selesai. Pendekatan ini merupakan strategi keamanan yang menyatukan pengelolaan identitas, kontrol akses, segmentasi, perlindungan data, serta pemantauan berkelanjutan. Dengan penerapan yang tepat, organisasi dapat membatasi akses tidak sah sekaligus mengurangi dampak ketika sebuah akun atau perangkat berhasil disusupi.

Apa Itu Zero Trust?

Zero Trust adalah model keamanan yang menghilangkan implicit trust atau kepercayaan otomatis. Setiap pengguna, perangkat, aplikasi, dan beban kerja harus membuktikan bahwa mereka berhak mengakses suatu sumber daya sebelum akses diberikan.

Konsep ini sering diringkas dengan prinsip never trust, always verify. Namun, maknanya bukan bahwa sistem harus selalu mencurigai semua pengguna tanpa alasan. Intinya adalah sistem tidak boleh memberikan akses hanya berdasarkan lokasi jaringan, status sebagai karyawan, atau keberhasilan login sebelumnya.

Setiap keputusan akses perlu menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Siapa yang meminta akses?
  • Perangkat apa yang digunakan dan apakah kondisinya aman?
  • Sumber daya apa yang ingin diakses?
  • Dari lokasi dan jaringan mana permintaan tersebut berasal?
  • Apakah perilakunya sesuai dengan pola normal?
  • Seberapa besar hak akses yang benar-benar dibutuhkan?

Dengan pendekatan ini, keberhasilan melewati satu lapisan autentikasi tidak otomatis membuka akses ke seluruh sistem. Kepercayaan harus dibangun dari hasil verifikasi dan dapat dievaluasi kembali ketika konteks atau tingkat risiko berubah.

Ilustrasi konsep keamanan Zero Trust
Sumber: Freepik

Mengapa Zero Trust Dibutuhkan?

Model keamanan tradisional banyak mengandalkan perimeter. Jaringan internal dianggap sebagai area terpercaya, sedangkan ancaman diasumsikan datang dari luar. Pendekatan tersebut masih dapat menjadi salah satu lapisan pertahanan, tetapi tidak lagi cukup jika digunakan sebagai satu-satunya dasar kepercayaan.

Ada beberapa perubahan yang membuat Zero Trust semakin relevan:

  • Akses tidak lagi terpusat. Karyawan, mitra, dan vendor dapat bekerja dari berbagai lokasi.
  • Aplikasi tersebar di banyak lingkungan. Organisasi dapat menggunakan data center, layanan SaaS, cloud publik, dan infrastruktur hybrid secara bersamaan.
  • Identitas menjadi target serangan. Kredensial yang dicuri dapat digunakan untuk menyamar sebagai pengguna yang sah.
  • Perangkat memiliki tingkat keamanan berbeda. Tidak semua perangkat memiliki pembaruan, konfigurasi, dan perlindungan yang sama.
  • Ancaman dapat berasal dari dalam. Akun yang disusupi atau hak akses yang berlebihan dapat dimanfaatkan untuk bergerak ke sistem lain.
Baca Juga:  Mengapa Password Manager Wajib untuk Keamanan Digital?

Zero Trust membantu organisasi berpindah dari pola “sudah berada di dalam berarti aman” menjadi “akses diberikan sesuai kebutuhan dan selalu dapat dievaluasi”. Untuk memahami perbedaannya secara lebih terarah, baca pembahasan Zero Trust vs Traditional Security.

Tiga Prinsip Utama Zero Trust

1. Verifikasi Secara Eksplisit

Setiap permintaan akses harus dinilai menggunakan data yang tersedia. Identitas pengguna memang penting, tetapi keputusan tidak seharusnya bergantung pada username dan password saja.

Sistem dapat mempertimbangkan:

  • hasil autentikasi pengguna;
  • lokasi dan waktu akses;
  • kondisi serta kepatuhan perangkat;
  • sensitivitas data atau aplikasi;
  • riwayat perilaku;
  • tingkat risiko sesi.

Jika konteks berubah, sistem dapat meminta verifikasi tambahan, mengurangi hak akses, atau menghentikan sesi.

2. Gunakan Least Privilege Access

Least privilege berarti pengguna dan sistem hanya mendapatkan akses minimum yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. Akses juga sebaiknya dibatasi berdasarkan waktu, peran, dan konteks.

Contohnya, anggota tim pemasaran tidak perlu memiliki akses administratif ke server produksi. Developer yang hanya bertugas mengelola lingkungan pengujian juga tidak harus mendapat akses permanen ke database produksi.

Pembatasan ini mengurangi area yang dapat dijangkau penyerang ketika sebuah akun berhasil diambil alih.

3. Asumsikan Pelanggaran Dapat Terjadi

Zero Trust merancang pertahanan dengan asumsi bahwa akun, perangkat, atau bagian jaringan dapat disusupi. Karena itu, organisasi tidak hanya berusaha mencegah serangan masuk, tetapi juga membatasi pergerakan penyerang setelah suatu titik berhasil ditembus.

Prinsip ini diterapkan melalui segmentasi, enkripsi, pencatatan aktivitas, deteksi anomali, dan respons otomatis. Tujuannya adalah memperkecil dampak insiden serta mempercepat proses identifikasi dan penanganannya.

Bagaimana Cara Kerja Zero Trust?

Secara umum, Zero Trust bekerja melalui proses pengambilan keputusan akses yang berulang. Alurnya dapat disederhanakan menjadi empat tahap.

1. Permintaan Akses Diterima

Pengguna, perangkat, aplikasi, atau layanan meminta akses ke sumber daya tertentu. Sumber daya tersebut dapat berupa aplikasi internal, database, dashboard, file, API, atau layanan lain.

2. Konteks dan Identitas Dinilai

Sistem memeriksa identitas, metode autentikasi, kondisi perangkat, lokasi, kebijakan, sensitivitas sumber daya, dan indikator risiko. Pemeriksaan ini menentukan apakah permintaan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

3. Kebijakan Akses Diterapkan

Akses dapat diberikan, ditolak, atau diberikan dengan syarat tambahan. Misalnya, pengguna harus melakukan autentikasi multifaktor, memakai perangkat yang terkelola, atau mengakses aplikasi hanya pada jam tertentu.

4. Aktivitas Terus Dipantau

Keputusan akses bukan keputusan permanen. Sistem tetap memantau perubahan konteks dan perilaku selama sesi berlangsung. Jika muncul aktivitas yang tidak wajar, hak akses dapat ditinjau ulang atau dicabut.

Dengan alur ini, Zero Trust tidak hanya menjaga pintu masuk. Model ini juga mengawasi bagaimana akses digunakan setelah diberikan.

Komponen Penting dalam Arsitektur Zero Trust

1. Identity and Access Management

Identitas menjadi pusat pengambilan keputusan. Sistem Identity and Access Management atau IAM digunakan untuk mengelola akun, peran, izin, siklus hidup pengguna, serta kebijakan akses.

Organisasi perlu memastikan akun dibuat sesuai kebutuhan, hak akses ditinjau secara berkala, dan akses segera dicabut ketika tidak lagi diperlukan.

2. Autentikasi Multifaktor

Autentikasi multifaktor atau MFA menambahkan bukti identitas selain password. Metode ini dapat menggabungkan sesuatu yang diketahui pengguna, perangkat yang dimiliki, dan faktor biometrik.

MFA merupakan komponen penting, tetapi MFA saja belum sama dengan Zero Trust. Sistem tetap perlu mengevaluasi perangkat, konteks, hak akses, dan perilaku setelah pengguna berhasil masuk.

3. Keamanan Perangkat

Identitas yang sah dapat mengakses sistem melalui perangkat yang tidak aman. Karena itu, kondisi perangkat perlu diperiksa sebelum akses diberikan.

Pemeriksaan dapat mencakup versi sistem operasi, status pembaruan keamanan, enkripsi perangkat, perlindungan endpoint, konfigurasi layar kunci, dan status pengelolaan perangkat.

4. Segmentasi dan Pembatasan Pergerakan

Segmentasi membagi jaringan dan sumber daya menjadi area yang lebih kecil. Pengguna tidak otomatis dapat berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain hanya karena sudah berhasil masuk ke jaringan.

Dengan segmentasi yang baik, pelanggaran pada satu bagian tidak langsung memberikan jalan menuju seluruh sistem.

Baca Juga:  Scammer Adalah: Ciri, Modus Scam, dan Cara Menghindarinya

5. Perlindungan dan Enkripsi Data

Zero Trust tidak berhenti pada kontrol akses. Data perlu dilindungi ketika disimpan maupun ketika dikirim. Klasifikasi data juga diperlukan agar kebijakan dapat disesuaikan dengan tingkat sensitivitasnya.

Pembahasan teknis mengenai metode dan fungsi enkripsi dapat dibaca dalam artikel enkripsi untuk keamanan data.

Untuk melindungi komunikasi website melalui HTTPS, pilih sertifikat yang sesuai dengan kebutuhan website. Lihat pilihan Sertifikat SSL DomaiNesia.

6. Logging, Analitik, dan Respons

Keputusan akses membutuhkan data yang dapat dipercaya. Log autentikasi, aktivitas aplikasi, perubahan izin, kondisi endpoint, dan trafik jaringan perlu dikumpulkan serta dianalisis.

Analitik membantu tim keamanan menemukan pola yang tidak biasa, sedangkan otomatisasi dapat digunakan untuk meminta autentikasi ulang, membatasi sesi, atau memblokir akses berisiko. Penggunaan AI dalam keamanan siber juga dapat membantu proses analisis, selama keputusan dan kualitas datanya tetap diawasi.

Manfaat Zero Trust bagi Organisasi

Mengurangi Risiko dari Kredensial yang Dicuri

Password yang benar tidak otomatis menghasilkan akses luas. Sistem masih dapat memeriksa faktor tambahan seperti perangkat, lokasi, perilaku, dan tingkat risiko.

Membatasi Dampak Insiden

Least privilege dan segmentasi mengurangi kemampuan penyerang untuk bergerak dari satu sistem ke sistem lain. Jika terjadi pelanggaran, area terdampak dapat dipersempit.

Mendukung Kerja Remote dan Hybrid

Akses tidak lagi bergantung pada keberadaan pengguna di jaringan kantor. Kebijakan dapat diterapkan berdasarkan identitas dan konteks, sehingga pengguna dapat bekerja dari lokasi berbeda tanpa mengandalkan kepercayaan berbasis lokasi.

Meningkatkan Visibilitas Akses

Organisasi dapat mengetahui siapa yang mengakses sumber daya, perangkat apa yang digunakan, kapan akses terjadi, dan tindakan apa yang dilakukan.

Membantu Penerapan Kebijakan yang Konsisten

Aturan akses dapat dirancang berdasarkan risiko dan sensitivitas sumber daya, bukan berdasarkan asumsi bahwa seluruh jaringan internal memiliki tingkat keamanan yang sama.

Komponen dan manfaat penerapan Zero Trust
Sumber: Freepik

Zero Trust Bukan Sekadar MFA atau Pengganti VPN

Salah satu kesalahan umum adalah menyederhanakan Zero Trust menjadi MFA, VPN baru, atau satu perangkat keamanan. Padahal, Zero Trust merupakan model pengambilan keputusan yang melibatkan banyak kontrol.

MFA membantu memastikan identitas pengguna, tetapi tidak otomatis membatasi hak akses atau memeriksa perilaku setelah login. VPN dapat membuat koneksi terenkripsi ke jaringan, tetapi tidak selalu menentukan aplikasi mana yang boleh diakses oleh setiap pengguna. Firewall tetap berguna, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya dasar kepercayaan.

Zero Trust menggabungkan berbagai kontrol tersebut agar akses diberikan secara spesifik, terukur, dan dapat ditinjau kembali.

Lengkapi Keamanan Website dengan SSL
Zero Trust mengontrol akses, sedangkan SSL membantu mengenkripsi koneksi antara pengguna dan website. Gunakan keduanya sebagai lapisan keamanan yang saling melengkapi.

Lihat Sertifikat SSL DomaiNesia

Langkah Menerapkan Zero Trust Secara Bertahap

Penerapan Zero Trust tidak harus dilakukan sekaligus. Organisasi dapat memulai dari sumber daya yang paling penting, kemudian memperluas kebijakan berdasarkan risiko dan kesiapan operasional.

1. Tentukan Protect Surface

Identifikasi data, aplikasi, layanan, dan aset yang paling penting untuk dilindungi. Ruang lingkup ini lebih spesifik daripada mencoba memetakan seluruh permukaan serangan sekaligus.

Contohnya dapat berupa database pelanggan, sistem pembayaran, panel administrasi, repositori kode, atau aplikasi internal yang menyimpan informasi sensitif.

2. Petakan Alur Akses

Catat siapa yang membutuhkan akses, perangkat yang digunakan, aplikasi tujuan, jalur koneksi, dan aktivitas yang dilakukan. Pemetaan ini membantu organisasi memahami kebutuhan nyata sebelum membuat aturan.

3. Perkuat Identitas dan Siklus Hidup Akun

Terapkan autentikasi yang lebih kuat, hapus akun tidak aktif, tinjau akses istimewa, dan pastikan perubahan peran diikuti dengan perubahan izin.

4. Terapkan Least Privilege

Kurangi hak akses berlebihan. Gunakan akses berbasis peran, akses sementara, atau persetujuan tambahan untuk tindakan sensitif.

5. Segmentasikan Sumber Daya

Batasi hubungan antarjaringan, aplikasi, dan lingkungan. Pisahkan lingkungan pengembangan, pengujian, dan produksi agar akses ke satu area tidak otomatis membuka area lain.

6. Buat Kebijakan Berbasis Konteks

Kebijakan perlu menentukan kondisi akses yang diperbolehkan. Misalnya, aplikasi tertentu hanya dapat diakses melalui perangkat terkelola dan MFA, sedangkan tindakan administratif memerlukan verifikasi tambahan.

7. Pantau, Uji, dan Perbaiki

Tinjau log, uji skenario akses, dan periksa apakah kebijakan menghambat aktivitas yang sah atau masih memberikan akses terlalu luas. Zero Trust perlu diperbaiki secara berkelanjutan sesuai perubahan sistem dan pola risiko.

Untuk contoh implementasi menggunakan layanan akses berbasis identitas, lihat panduan implementasi Zero Trust Security dengan Cloudflare Access.

Penerapan Zero Trust di Lingkungan Cloud

Lingkungan cloud memiliki karakteristik khusus karena identitas, aplikasi, data, API, dan workload dapat tersebar di berbagai layanan. Akses juga tidak hanya dilakukan oleh manusia, tetapi dapat berlangsung antarservice dan antarworkload.

Baca Juga:  Keamanan Cloud: Perlindungan Data di Era Digital

Karena itu, penerapan Zero Trust di cloud perlu memperhatikan identitas workload, service account, secrets, API, kebijakan antarlingkungan, dan visibilitas aktivitas. Pembahasan ini memiliki ruang lingkup tersendiri agar tidak tercampur dengan definisi umum Zero Trust. Penjelasan lengkapnya tersedia dalam artikel Zero Trust di cloud.

Untuk konteks perlindungan data, konfigurasi, dan tanggung jawab keamanan yang lebih luas, kamu juga dapat membaca panduan keamanan cloud.

Kesalahan Umum saat Menerapkan Zero Trust

Menganggap Zero Trust sebagai Satu Produk

Tidak ada satu produk yang otomatis menyelesaikan seluruh kebutuhan Zero Trust. Organisasi perlu menyatukan kebijakan, proses, identitas, keamanan perangkat, perlindungan data, dan pemantauan.

Menerapkan Kontrol tanpa Memetakan Kebutuhan Akses

Kebijakan yang terlalu ketat dapat mengganggu pekerjaan, sedangkan kebijakan terlalu longgar tidak mengurangi risiko. Pemetaan pengguna, sumber daya, dan alur kerja perlu dilakukan sebelum aturan diterapkan.

Mengabaikan Akun Layanan dan Workload

Zero Trust tidak hanya berlaku untuk akun manusia. API key, service account, aplikasi, container, dan proses otomatis juga memerlukan identitas serta izin yang terbatas.

Tidak Menyiapkan Proses Pemulihan Akses

Kebijakan yang salah dapat mengunci pengguna sah atau administrator. Organisasi perlu memiliki prosedur pemulihan, akun darurat yang diawasi, dan proses persetujuan yang jelas.

Tidak Melakukan Evaluasi Berkala

Peran pengguna, aplikasi, perangkat, dan risiko selalu berubah. Hak akses dan kebijakan yang tidak pernah ditinjau dapat kembali menjadi terlalu luas.

Tantangan Implementasi Zero Trust

Meskipun menawarkan banyak manfaat, Zero Trust bukan pendekatan yang bebas tantangan. Sistem lama mungkin belum mendukung autentikasi modern atau kontrol akses yang granular. Data identitas dan inventaris perangkat juga dapat tersebar di banyak platform.

Selain itu, perubahan kebijakan dapat memengaruhi kebiasaan kerja pengguna. Jika proses verifikasi terlalu sering atau tidak sesuai risiko, pengguna dapat merasa terganggu dan mencari jalan pintas.

Karena itu, implementasi sebaiknya dilakukan bertahap, dimulai dari aset bernilai tinggi, disertai komunikasi yang jelas, pengujian, serta pengukuran hasil.

Bagaimana Mengukur Keberhasilan Zero Trust?

Keberhasilan Zero Trust tidak cukup diukur dari jumlah produk keamanan yang dipasang. Organisasi perlu melihat apakah akses semakin tepat, insiden lebih cepat ditemukan, dan risiko pergerakan lateral berkurang.

Beberapa indikator yang dapat digunakan meliputi:

  • berkurangnya jumlah akun dengan hak akses berlebihan;
  • meningkatnya cakupan MFA untuk akses sensitif;
  • menurunnya penggunaan akun bersama;
  • lebih cepatnya pencabutan akses pengguna yang tidak aktif;
  • meningkatnya visibilitas terhadap perangkat dan sesi;
  • berkurangnya waktu deteksi serta respons terhadap aktivitas mencurigakan;
  • meningkatnya jumlah aplikasi yang dilindungi kebijakan berbasis identitas.

Metrik tersebut perlu disesuaikan dengan tujuan dan tingkat kematangan keamanan masing-masing organisasi.

FAQ tentang Zero Trust

Apakah Zero Trust berarti tidak mempercayai karyawan?

Tidak. Zero Trust tidak menilai niat seseorang. Model ini menghapus kepercayaan otomatis dan memastikan akses diberikan berdasarkan identitas, kebutuhan, kondisi perangkat, serta tingkat risiko.

Apakah Zero Trust menggantikan firewall?

Tidak. Firewall tetap dapat menjadi salah satu lapisan keamanan. Zero Trust mengubah cara kepercayaan dan hak akses ditentukan, bukan menghapus seluruh kontrol keamanan yang sudah ada.

Apakah MFA sudah cukup untuk menerapkan Zero Trust?

Belum. MFA memperkuat autentikasi, tetapi Zero Trust juga membutuhkan least privilege, segmentasi, keamanan perangkat, perlindungan data, logging, serta evaluasi akses berkelanjutan.

Apakah Zero Trust hanya untuk perusahaan besar?

Tidak. Organisasi kecil dapat menerapkan prinsip yang sama secara bertahap, misalnya dengan mengaktifkan MFA, menghapus akun tidak aktif, membatasi hak administrator, memisahkan akses aplikasi, dan memantau aktivitas penting.

Apakah Zero Trust dapat diterapkan sekaligus?

Secara teknis mungkin dilakukan pada lingkungan yang sangat sederhana, tetapi pada kebanyakan organisasi pendekatan bertahap lebih aman. Mulailah dari aset kritis, identitas, dan akses berisiko tinggi, lalu perluas cakupannya.

Zero Trust sebagai Fondasi Keamanan Digital

Zero Trust adalah pendekatan keamanan yang tidak memberikan kepercayaan secara otomatis. Identitas, perangkat, aplikasi, dan workload harus diverifikasi berdasarkan konteks sebelum mendapat akses. Hak yang diberikan juga dibatasi sesuai kebutuhan dan terus dievaluasi.

Nilai utama Zero Trust bukan sekadar menambah proses login. Model ini membantu organisasi mengurangi akses berlebihan, membatasi dampak pelanggaran, meningkatkan visibilitas, dan menerapkan kebijakan yang konsisten di lingkungan kerja modern.

Penerapannya perlu dilakukan sebagai program berkelanjutan. Mulailah dari aset yang paling penting, perkuat identitas, terapkan least privilege, segmentasikan sumber daya, lindungi data, dan gunakan hasil pemantauan untuk memperbaiki kebijakan dari waktu ke waktu.


Berlangganan Artikel

Dapatkan artikel, free ebook dan video
terbaru dari DomaiNesia

{{ errors.name }} {{ errors.email }}
Migrasi ke DomaiNesia

Migrasi Hosting ke DomaiNesia Gratis 1 Bulan

Ingin memiliki hosting dengan performa terbaik? Migrasikan hosting Anda ke DomaiNesia. Gratis jasa migrasi dan gratis 1 bulan masa aktif!

Ya, Migrasikan Hosting Saya

Hosting Murah

This will close in 0 seconds