Mobile Game: Sekarang Nggak Cuma Main-Mainan


Dijamin salah satu dari kamu yang membaca tulisan ini pernah memainkan sebuah mobile game yang berada di ponsel. Keberadaan game pada sebuah perangkat ponsel memang pada awalnya hanyalah media hiburan untuk “membakar” waktu. Tapi siapa sangka, game bawaan pada ponsel yang dulu hanya beberapa jenis saja, sekarang telah berkembang begitu pesat bahkan menjadi cabang olahraga atau e-sport.

Bermula dari Balok Balok Tetris, Hingga Dentuman Peluru PUBG

Game Legendaris yang Merambah Mobile

mobile game tetris

source: digitaltrends.com

Jauh sebelum istilah e-sport dikenal, pada awalnya mobile game berkembang pada sebuah perangkat handphone bernama Hagenuk MT-2000. Pernah dengar? Hagenuk MT-2000 yang dikembangkan di negara Denmark ini memiliki sebuah game yang tentunya sudah tidak asing lagi bernama Tetris. Tetris yang dikembangkan pada tahun 1984 untuk perangkat komputer, pertama kalinya dibawa kedalam sebuah device mobile sebagai pionir game mobile.

Kemudian nggak lama, Nokia muncul dengan game legendarisnya yang bernama Snake. Meski sama seperti Tetris sebenarnya, Snake ini telah muncul lama sebelum diperkenalkan kedalam perangkat mobile. Snake dikembangkan pada tahun 1976 oleh Gremlin untuk perangkat gaming.

Game Nokia N Gage

source: wikipedia.com

Nokia yang kala itu menjadi handphone sejuta umat, kemudian seakan mendominasi perkembangan game mobile yang mereka bundling kedalam perangkat selular mereka. Sebut saja salah satu yang cukup terkenal adalah hp gaming pertama bernama N-Gage yang menyerupai sebuah joy-stick. Barulah kemudian perkembangan mobile game semakin pesat setelah handphone dengan OS Android diperkenalkan.

Mobile Game yang Menghadirkan Fitur Multiplayer

Dengan perkembangan device yang makin canggih, maka mobile game pun semakin kompleks. Dimulai dari “kesederhanaan” yang ditampilkan Angry Bird, dan update-update nya hingga beberapa versi sejak diluncurkan pertama kali. Dilanjutkan dengan Supercell yang merilis Clash of Clans yang merupakan mobile game multiplayer yang meledak.

Bahkan 6 tahun sejak dirilis, Clash of Clans mampu memberikan suntikan dana sebesar 10 milyar dolar untuk developernya. Tidak hanya itu saja, varian game lain oleh Supercell yang berkonsep battle royale pun meledak dan menjadi cabang kompetisi gaming di beberapa negara. Game bernama Clash Royale ini pun menjadi salah satu cabang E-Sport Asian Games 2018 kemarin loh.

Clash Royale Asian Games

source: asia.nikkei.com

Tak lama setelah Clash Royale berkembang, pasar persaingan di dunia mobile game pun semakin ramai dengan hadirnya jenis game yang mengadaptasi game yang hadir di perangkat komputer yakni DoTA. Jenis game MOBA ini kemudian menjadi “wabah” yang menyebar diseluruh gamers di dunia. Baik di daratan Amerika, Eropa, maupun Asia.

Invasi game PC yang dibawa keperangkat lebih sederhana pun diikuti oleh PUBG. Game dengan konsep battle royale, war, dan mini-game ini menjadi kegemaran para gamers dari segala usia. Player Unknown Battleground ini kemudian banyak hadir di kompetisi-kompetisi berskala lokal maupun internasional. Dan jangan salah, prize funds yang diberikan pun tidak main main.

Tumbuh di Asia, Kemudian Menjelajah Dunia

Asia bisa dibilang adalah New Mecca bagi perkembangan dunia game. Bukan hanya karena perkara para developer game Asia yang akhir-akhir ini memenangkan persaingan pasar game dunia. Tapi juga karena Asia merupakan tanah peruntungan bagi pasar mobile game.

Kemudian bukan juga karena Asia memiliki jumlah penduduk yang paling besar di dunia. Namun lebih karena masyarakat Asia dikenal loyal dan memiliki jumlah pemain mobile game yang lebih besar dibandingkan ditempat lain di bumi ini. Dan jika dikerucutkan, Asia Timur dan Asia Tenggara adalah tempat yang memiliki konsentrasi para pemain mobile game dengan tingkat loyalitas yang cukup tinggi.

Tak heran memang, para developer mobile game kemudian memicingkan mata kepada beberapa nama di Asia Tenggara, misalnya Indonesia dan Filipina. Dua negara ini sekarang memiliki jumlah pemain mobile game paling besar dan merupakan target pasar potensial untuk mengeruk keuntungan. Dan ditahun 2021 diprediksi bahwa jumlah pemain mobile di Asia Tenggara akan sebesar 250 juta pemain!

PUBG Indonesia

source: aerowolf.com

Potensi keuntungan ini pun semakin terlihat menggiurkan setelah para pemain game di Asia Tenggara mulai menunjukkan perubahan perilaku. Jika sebelumnya para pemain di Asia Tenggara hanya “mau” memainkan game yang mereka donwload, kini mereka sudah mau membayar fitur-fitur premium yang sebenarnya menjadi dagangan utama bagi para developer. Filipina buktinya, kini menjadi pasar nomor tiga terbesar untuk transaksi yang dilakukan di Google Play.

Perkembangan ini juga dibantu dengan kerjasama antara Google Play dan berbagai pihak third party yang menyediakan berbagai macam pembayaran. Mengingat jumlah penduduk Asia Tenggara yang menggunakan kartu kredit sebagai media pembayaran tidak sebanyak penduduk di belahan benua lainnya. Kemudahan inilah yang semakin mendorong para pemain mobile game untuk melakukan pembelian.

Berapa Sih, Pendapatan Para Pemain Mobile Game Ini?

Banca’an Keuntungan Industry Mobile Game

Kue dari mobile game dan event-event E-Sport rupanya tidak hanya menjadi berkah bagi para developer game, penyelenggara event, atau produk-produk teknologi yang terlibat didalamnya. Namun juga para pemain E-Sport sebagai sorotan utama pada industri ini. Menjadi para pemain game secara profesional bahkan, menjadi cita-cita baru bagi anak-anak masa kini.

E-Sport tidak hanya menjanjikan keuntungan bagi para pemain gim yang memenangkan kompetisi saja. Namun juga diluar pendapatan yang mereka peroleh dari kompetisi, biasanya endorse atau bahkan memiliki channel khusus di Youtube yang tentunya bisa menjadi sumber pendapatan lainnya. Seperti salah satu pemain E-Sport asal Indonesia yang juga dikenal sebagai seorang Vlogger, Jess No Limit.

Jess No Limit

source: duniaku.net

Pria dengan nama asli Tobias Justin ini merupakan salah satu pemain gim online yang cukup terkenal di Indonesia. Jess No Limit adalah seorang Youtuber yang memiliki konten mengenai permainan game mobile dengan jumlah subscriber hingga 4 juta subscriber! Pria ini konsisten membuat video vlog hingga berjumlah 371 video. Dari Youtube saja, pendapatannya diperkirakan sebanyak 3.5 miliar.

Menjanjikan Jenis Lapangan Kerja Baru

Tidak hanya sebagai seorang Youtuber, Jess No Limit juga merupakan seorang pemain gim Mobile Legend dengan peringkat global yang cukup tinggi dengan menjadi salah satu Top Global Mobile Legend Player. Bahkan dalam Mobile League Season 6 dia mampu menjadi peringkat pertama. Dari Mobile Legend sendiri Jess No Limit juga mendapatkan gaji sebesar 4 juta rupiah dari turnamen LMP yang dia ikuti.

Pendapatan sebesar ini masih belum ditambahkan dengan gaji yang dia dapatkan ketika memainkan laga E-Sport bersama timnya Evos. Kemudian pendapatan yang dia dapatkan juga dari endorsement produk seperti Gojek, Traveloka, Biznet, Nvidia dan lain lain. Dengan penghasilan yang sangat besar ini, Jess No Limit bisa menghadiahi dirinya sendiri dengan Ferrari California,Honda CRV dan jam Rolex. Jangan tanya berapa masing-masing harga itemnya.

Perkembangan mobile game yang mulanya hanya sebuah “pelengkap” dari perangkat seluler, menjadi sebuah industry yang cukup menjanjikan bagi para pelaku didalamnya. Tidak hanya bagi penyedia perangkat teknologi, developer, namun juga menciptakan mimpi-mimpi baru bagi anak muda dengan lahan pekerjaan yang baru. Bekerja dan bermain menjadi seorang E-Sport Gamer, dimana sekarang bukan cuma main-mainan.

Pindah ke DomaiNesia

Tertarik mendapatkan semua fitur layanan DomaiNesia?
Dapatkan Diskon Migrasi 25% serta GRATIS biaya migrasi & setup

Ya, migrasikan layanan saya!