• Home
  • Berita
  • Object Storage DomaiNesia: S3, Replikasi, CDN, dan Arsitektur Penyimpanannya

Object Storage DomaiNesia: S3, Replikasi, CDN, dan Arsitektur Penyimpanannya

Oleh Mila Rosyida
Object Storage DomaiNesia: S3, Replikasi, CDN, dan Arsitektur Penyimpanannya 1

Pertumbuhan data pada website dan aplikasi tidak selalu berjalan seiring dengan kebutuhan CPU atau RAM. Sebuah aplikasi dapat memiliki resource komputasi yang masih memadai, tetapi kapasitas penyimpanannya terus bertambah karena gambar, video, attachment, backup, file log, dokumen, dan konten pengguna.

Dalam kondisi tersebut, menambahkan kapasitas disk pada server utama bukan satu-satunya pendekatan yang tersedia. Tim dapat memisahkan layer komputasi dan penyimpanan sehingga masing-masing resource dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhannya.

Object storage memberikan pendekatan tersebut dengan menyimpan data sebagai objek yang dapat diakses melalui API. Model ini membuat aplikasi tidak harus bergantung pada disk lokal ketika perlu menyimpan file dalam jumlah besar.

Object Storage DomaiNesia menyediakan penyimpanan S3-compatible dengan dukungan 3X replikasi data, automatic failover, jaringan cluster 40 GbE, Direct Connect 10G, HTTP/3, Brotli, serta kapasitas yang dapat disesuaikan mulai dari 15 GB hingga 10 TB.

Lalu, apa arti fitur-fitur tersebut ketika diterapkan pada website atau aplikasi? Berikut pembahasan teknisnya.

Object Storage DomaiNesia

S3 Compatible Mempermudah Integrasi Object Storage dengan Aplikasi

Salah satu keunggulan utama Object Storage DomaiNesia adalah dukungan terhadap protokol yang kompatibel dengan S3. Kompatibilitas tersebut membuat aplikasi dapat berkomunikasi dengan storage menggunakan pola dan tool yang sudah banyak digunakan dalam ekosistem S3.

Secara sederhana, alur integrasinya dapat digambarkan sebagai berikut:

Aplikasi → S3 SDK/Client → Endpoint → Bucket → Object

Aplikasi tidak harus memperlakukan penyimpanan sebagai disk yang terpasang langsung pada server. Developer dapat mengirim, membaca, menampilkan daftar, atau menghapus objek melalui request yang dikirim menuju endpoint Object Storage.

DomaiNesia menyediakan beberapa komponen utama untuk proses tersebut, yaitu endpoint, bucket, Access Key, dan Secret Key. S3 client seperti Cyberduck juga dapat menggunakan komponen tersebut untuk mengakses Object Storage melalui jaringan.

Keuntungan praktis dari pendekatan tersebut terlihat ketika aplikasi sudah menggunakan SDK yang mendukung S3. Developer tidak perlu membuat mekanisme penyimpanan file dari awal, tetapi dapat menyesuaikan endpoint dan credential agar aplikasi terhubung dengan Object Storage DomaiNesia.

Sebagai contoh, dokumentasi DomaiNesia menunjukkan integrasi Node.js menggunakan AWS SDK. Aplikasi dapat melakukan upload, download, dan listing objek dengan tetap menggunakan pola operasi S3 yang sudah dikenal developer.

Kamu dapat melihat implementasi teknisnya melalui panduan integrasi Object Storage dengan Node.js.

Bucket dan Object Key Membuat Data Lebih Mudah Dikelola oleh Aplikasi

Object storage tidak mengatur data menggunakan struktur filesystem tradisional yang mengandalkan direktori fisik bertingkat. Data disimpan sebagai objek di dalam bucket, sedangkan aplikasi mengenali setiap objek melalui key.

Misalnya, aplikasi e-commerce dapat menyimpan sebuah gambar dengan object key seperti:

products/1028/images/main.webp

Struktur tersebut dapat terlihat seperti folder ketika ditampilkan pada aplikasi pengelola storage. Namun, bagi aplikasi, nilai tersebut pada dasarnya berfungsi sebagai identifier atau key yang menunjukkan objek tertentu.

Pola ini memberikan keleluasaan kepada developer untuk merancang organisasi objek berdasarkan kebutuhan aplikasi.

Contohnya:

users/{user-id}/avatar.webp

products/{product-id}/images/{image-id}.webp

invoices/{year}/{invoice-id}.pdf

backups/{date}/database.sql.gz

Database aplikasi kemudian dapat menyimpan informasi bisnis dan referensi menuju objek, sedangkan file sebenarnya berada pada Object Storage.

Pemisahan tersebut sangat berguna ketika ukuran file jauh lebih besar daripada data transaksional yang disimpan aplikasi.

Access Key dan Secret Key Menghubungkan Aplikasi dengan Object Storage

Aplikasi membutuhkan mekanisme autentikasi sebelum dapat melakukan operasi terhadap bucket. Pada Object Storage DomaiNesia, koneksi dapat menggunakan Access Key dan Secret Key yang dibuat melalui dashboard layanan.

Secara sederhana, alurnya menjadi:

Credential tersebut memungkinkan backend mengirim request yang terautentikasi menuju Object Storage.

Pada aplikasi produksi, Secret Key idealnya tetap berada pada lingkungan backend dan tidak dikirim langsung kepada browser atau aplikasi client. Pendekatan tersebut membuat credential utama tetap berada pada komponen aplikasi yang dikendalikan oleh developer.

Untuk kebutuhan tertentu, aplikasi juga dapat menggunakan pre-signed URL.

Alurnya dapat dibuat seperti berikut:

User → Backend → Request izin upload

Backend → Membuat Pre-Signed URL

User → Upload langsung ke Object Storage

Dengan pola tersebut, backend tetap menentukan apakah pengguna mendapatkan izin untuk mengakses objek, tetapi file tidak selalu harus melewati server aplikasi terlebih dahulu.

Dokumentasi integrasi Node.js dan Python DomaiNesia sudah menunjukkan penggunaan pre-signed URL untuk proses upload maupun download objek.

Pendekatan tersebut menjadi semakin menarik ketika aplikasi menangani attachment, foto pengguna, dokumen, atau file berukuran besar dalam jumlah banyak.

S3 Compatible Membantu Memisahkan Compute dan Storage

Keuntungan Object Storage akan terasa lebih jelas ketika sebuah aplikasi mulai berkembang.

Bayangkan sebuah aplikasi menggunakan server dengan spesifikasi berikut:

8 vCPU

16 GB RAM

200 GB storage

Setelah beberapa bulan, CPU dan RAM masih cukup untuk menangani workload aplikasi. Namun, file pengguna telah berkembang hingga mendekati kapasitas penyimpanan server.

Jika semua komponen harus berada pada mesin yang sama, pertumbuhan file dapat memaksa tim meningkatkan server meskipun resource komputasinya belum membutuhkan upgrade.

Object storage memungkinkan arsitektur tersebut dipisahkan menjadi:

Application Server → proses aplikasi

Database → data terstruktur dan transaksi

Object Storage → gambar, video, dokumen, backup, dan file

Dengan pola ini, peningkatan kebutuhan file tidak harus selalu diikuti peningkatan resource komputasi.

Jika aplikasi mulai menghasilkan file lebih cepat daripada pertumbuhan kebutuhan CPU dan RAM, Object Storage DomaiNesia dapat digunakan untuk memisahkan layer penyimpanan dari server utama. Dukungan S3-compatible juga memudahkan integrasi dengan berbagai aplikasi dan SDK yang sudah menggunakan ekosistem S3.

3X Replikasi Data Mendukung High Availability Storage

Penyimpanan bukan hanya persoalan menyediakan kapasitas yang besar. Aplikasi juga membutuhkan storage yang tidak bergantung pada satu komponen fisik.

Object Storage DomaiNesia menggunakan 3X replikasi data. Layanan tersebut juga mendukung automatic failover ketika terjadi masalah pada server fisik atau hardware.

Secara sederhana, konsep replikasi dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Dengan lebih dari satu replika, sebuah objek tidak hanya bergantung pada satu media penyimpanan di dalam cluster.

Ketika terjadi gangguan pada salah satu komponen fisik, mekanisme high availability dan failover dapat memanfaatkan infrastruktur lain yang masih tersedia. Pendekatan tersebut membantu menjaga kontinuitas layanan pada level infrastruktur.

Arsitektur semacam ini menjadi relevan ketika Object Storage digunakan sebagai penyimpanan aset website, media aplikasi, file pengguna, atau data lain yang perlu tersedia secara konsisten.

Replikasi dan Backup Memiliki Peran yang Berbeda

Replikasi memberikan manfaat besar untuk menjaga availability ketika terjadi masalah pada infrastruktur. Backup kemudian dapat melengkapi strategi perlindungan data dari sisi recovery.

Keduanya menyelesaikan skenario yang berbeda.

Jika salah satu hardware bermasalah, replikasi menyediakan redundansi data pada cluster. Namun, ketika pengguna sengaja menghapus sebuah objek atau aplikasi mengirim instruksi penghapusan yang valid, strategi recovery membutuhkan mekanisme backup yang dirancang secara terpisah.

Karena itu, arsitektur yang matang dapat menggabungkan:

Replication → availability

Backup → recovery

DomaiNesia menjelaskan bahwa Object Storage menggunakan replikasi pada infrastrukturnya, sedangkan layanan tersebut saat ini tidak menyediakan sistem backup tambahan. Pengguna dapat membangun kebijakan backup sendiri berdasarkan seberapa penting data dan target recovery yang dibutuhkan.

Jika kamu ingin memperdalam strategi tersebut, pembahasan mengenai remote backup dapat menjadi referensi tambahan.

40 GbE Networking Memberikan Kapasitas Besar pada Jaringan Cluster

Object storage harus menangani komunikasi antar-node sekaligus request dari aplikasi yang mengakses objek.

Ketika volume operasi meningkat, kemampuan jaringan pada layer storage menjadi bagian penting dari arsitektur keseluruhan.

DomaiNesia menggunakan jaringan 40 GbE untuk menghubungkan setiap server Object Storage dengan cluster. Infrastruktur tersebut dirancang agar jaringan internal memiliki kapasitas yang memadai ketika banyak data bergerak di dalam sistem storage.

Spesifikasi tersebut terutama menggambarkan konektivitas pada layer cluster. Kecepatan transfer yang dirasakan aplikasi kemudian tetap dipengaruhi oleh keseluruhan jalur komunikasi, termasuk jaringan server aplikasi, internet, lokasi pengguna, ukuran objek, serta jumlah request yang berjalan.

Dengan demikian, jaringan 40 GbE berperan sebagai fondasi yang menyediakan ruang komunikasi besar di dalam arsitektur Object Storage.

Direct Connect 10G Membantu Distribusi Konten melalui CDN

Website atau aplikasi tidak selalu perlu mengirim file secara langsung dari origin storage menuju setiap pengguna.

Aset yang sering diakses dapat didistribusikan melalui Content Delivery Network atau CDN.

Arsitekturnya menjadi:

Object Storage → CDN → Pengguna

Object Storage DomaiNesia menyediakan konektivitas Direct Connect 10G untuk mendukung koneksi menuju jaringan CDN dan sejumlah jaringan besar. Landing page produk juga secara khusus mencantumkan konektivitas menuju Cloudflare CDN.

Pendekatan tersebut sangat relevan untuk:

  • gambar produk;
  • file CSS dan JavaScript;
  • katalog;
  • dokumen publik;
  • gambar artikel;
  • downloadable assets;
  • dan berbagai aset statis lainnya.

Dalam arsitektur website, pemisahan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Application Server → HTML dan business logic

Database → transaksi dan data aplikasi

Object Storage → aset

CDN → distribusi aset ke pengguna

Server aplikasi tidak harus menjadi satu-satunya komponen yang melayani setiap file.

Object Storage dapat bertindak sebagai origin penyimpanan, sedangkan CDN dapat membantu membawa konten lebih dekat menuju layer distribusi.

HTTP/3 Mendukung Jalur Komunikasi Modern

Object Storage DomaiNesia juga mendukung HTTP/3 dengan QUIC. Teknologi tersebut bekerja pada sisi komunikasi data dan melengkapi infrastruktur penyimpanan yang digunakan aplikasi.

HTTP/3 menggunakan QUIC sebagai protokol transport dan mendukung multiplexing beberapa stream dalam satu koneksi.

Dalam praktiknya, pendekatan tersebut dapat memberikan keuntungan pada kondisi jaringan yang membutuhkan komunikasi HTTP secara efisien, terutama ketika aplikasi harus menangani banyak request.

Fitur tersebut relevan untuk object storage karena workload storage dapat menghasilkan berbagai request secara bersamaan.

Sebuah halaman website, misalnya, dapat membutuhkan banyak gambar dan aset lain dalam satu waktu. Infrastruktur komunikasi yang modern membantu delivery layer menangani pola permintaan tersebut dengan lebih efisien.

Brotli Membantu Mengoptimalkan Konten yang Dapat Dikompresi

Selain HTTP/3, Object Storage DomaiNesia juga mendukung Brotli sebagai bagian dari fitur delivery.

Brotli merupakan teknologi kompresi lossless yang dapat mengurangi ukuran data sebelum dikirim melalui jaringan.

Manfaatnya terutama terasa pada konten yang memang mudah dikompresi, seperti:

  • HTML;
  • CSS;
  • JavaScript;
  • JSON;
  • SVG;
  • dan data berbasis teks lainnya.

Sementara itu, format seperti JPEG, WebP, MP4, atau ZIP biasanya sudah memiliki kompresi pada formatnya masing-masing.

Dalam praktiknya, HTTP/3 dan Brotli bekerja pada sisi pengiriman data, sedangkan S3-compatible storage, bucket, dan replikasi bekerja pada sisi penyimpanan. Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa Object Storage tidak hanya perlu dilihat dari kapasitas disk, tetapi juga dari jalur yang digunakan aplikasi untuk menyimpan dan mengambil data.

Kapasitas Storage Dapat Berkembang Mengikuti Data

Keuntungan lain dari memisahkan storage dan compute adalah kapasitas dapat ditingkatkan mengikuti pertumbuhan file tanpa harus mengubah spesifikasi aplikasi secara bersamaan.

Object Storage DomaiNesia menyediakan alokasi penyimpanan mulai dari 15 GB hingga 10 TB. Setiap pengguna dapat memiliki hingga 500 bucket, sedangkan spesifikasi produk mencantumkan ukuran upload maksimum dan rate limit yang tidak dibatasi pada level paket.

Rentang tersebut memberikan ruang untuk berbagai skenario.

Website dapat memulai dengan kebutuhan penyimpanan yang relatif kecil. Ketika jumlah media atau file bertambah, kapasitas Object Storage dapat ditingkatkan tanpa harus memindahkan seluruh aplikasi ke server dengan CPU atau RAM yang lebih besar.

DomaiNesia saat ini menyediakan mekanisme upgrade kapasitas ketika kebutuhan storage berkembang.

Pendekatan tersebut membuat capacity planning lebih mudah dilakukan berdasarkan pertumbuhan data yang sebenarnya.

Hingga 500 Bucket Memberikan Fleksibilitas dalam Mengatur Data

Dukungan hingga 500 bucket bukan berarti setiap file membutuhkan bucket sendiri. Bucket justru dapat digunakan untuk memisahkan data berdasarkan fungsi, environment, aplikasi, atau kebijakan akses.

Sebagai contoh, developer dapat menggunakan:

production-assets

staging-assets

private-documents

public-media

application-backup

Di dalam bucket tersebut, object key masih dapat digunakan untuk membuat struktur data yang lebih spesifik.

Contohnya:

public-media/products/

public-media/blog/

private-documents/invoices/

private-documents/contracts/

Dengan desain seperti ini, bucket menjadi layer organisasi tingkat tinggi, sedangkan object key mengatur file secara lebih granular.

Arsitektur tersebut juga membantu tim menghindari penyimpanan seluruh tipe data di dalam satu struktur yang sulit dikelola ketika aplikasi berkembang.

Bandwidth Tanpa Kuota Tetap Mendukung Pola Transfer yang Dinamis

Kebutuhan transfer data tidak selalu mudah diprediksi.

Website dapat mengalami kenaikan trafik ketika menjalankan kampanye, sedangkan aplikasi backup dapat menghasilkan transfer besar pada jam tertentu.

DomaiNesia tidak menerapkan kuota bandwidth tetap pada paket Object Storage. Trafik layanan tetap dimonitor agar pemakaian tidak mengganggu jaringan maupun pengguna lain, sedangkan bandwidth internasional menggunakan kapasitas shared.

Model tersebut memberikan fleksibilitas bagi workload yang volume transfernya dapat berubah dari waktu ke waktu.

Pengguna tidak harus menghitung setiap gigabyte transfer sebagai kuota paket, tetapi tetap dapat merancang arsitektur dengan memperhatikan karakter jaringan dan pola traffic aplikasi.

Kontrol Panel Mempermudah Pengelolaan Bucket

Tidak semua pengelolaan Object Storage harus dilakukan melalui command line atau source code.

DomaiNesia menyediakan dashboard yang dapat digunakan untuk membuat dan mengelola bucket. Bucket tersebut kemudian dapat dihubungkan dengan aplikasi menggunakan endpoint serta credential yang tersedia.

Pendekatan tersebut memberikan dua jalur pengelolaan.

Administrator dapat mengatur storage melalui dashboard, sedangkan developer dapat mengintegrasikan aplikasi melalui S3 API.

Jika kamu ingin melakukan konfigurasi bucket, Access Key, dan S3 client, gunakan panduan mengakses Object Storage DomaiNesia. Panduan tersebut membahas pembuatan bucket, Access Key, serta akses menggunakan S3 client seperti Cyberduck.

Bagaimana Object Storage Digunakan pada Arsitektur Aplikasi?

Kekuatan Object Storage akan terlihat lebih jelas ketika fitur-fitur tersebut ditempatkan pada workload yang tepat.

Berikut beberapa pola implementasi yang dapat digunakan.

1. Menyimpan User-Generated Content

Aplikasi marketplace, SaaS, sistem HR, platform komunitas, atau portal pelanggan dapat menghasilkan banyak file dari pengguna.

Contohnya meliputi:

  1. foto profil
  2. gambar produk
  3. attachment
  4. dokumen
  5. hasil export
  6. video

Aplikasi dapat menggunakan pola sederhana:

User → Backend → Object Storage

Ketika skalanya meningkat, developer dapat menggunakan pre-signed URL agar aplikasi tetap mengontrol izin akses tanpa harus meneruskan seluruh transfer file melalui backend.

Pola tersebut dapat menjadi:

User → Backend → Pre-Signed URL

kemudian:

User → Object Storage

Pendekatan tersebut membuat Object Storage menjadi layer file yang terpisah dari business logic aplikasi.

2. Menyimpan Aset Website

Website dengan banyak gambar dapat menggunakan Object Storage untuk memisahkan media dari storage utama hosting atau server.

Arsitekturnya dapat dibuat seperti:

CMS → Object Storage → CDN → Pengunjung

Server utama tetap menangani proses aplikasi, sedangkan Object Storage menyediakan layer penyimpanan untuk aset.

Pengguna WordPress juga dapat menerapkan Object Storage sebagai bagian dari strategi pengelolaan media maupun backup. DomaiNesia menyediakan panduan khusus mengenai integrasi Object Storage dengan WordPress.

3. Menyimpan Backup

Object Storage juga cocok digunakan sebagai destination untuk hasil backup.

Alurnya dapat berupa:

Production Server → Backup Job → Object Storage

Pendekatan tersebut memungkinkan file backup dipisahkan dari storage server produksi.

Tim kemudian dapat menentukan sendiri jadwal, retensi, versi, dan kebijakan recovery berdasarkan kebutuhan aplikasinya.

4. Menyimpan File Aplikasi dalam Jumlah Besar

Sebuah aplikasi dapat menghasilkan ribuan hingga jutaan file tanpa harus menjadikan setiap file sebagai bagian dari filesystem aplikasi.

Misalnya, sistem invoice dapat menggunakan pola:

Database → nomor invoice + data transaksi

Object Storage → invoice.pdf

Sistem katalog dapat menggunakan:

Database → nama produk + harga + metadata

Object Storage → image.webp

Pemisahan tersebut membuat database menangani data yang memang membutuhkan operasi terstruktur, sedangkan Object Storage menangani file yang lebih sesuai disimpan sebagai objek.

Menempatkan Object Storage pada Workload yang Tepat

Object Storage memberikan keunggulan besar ketika aplikasi menangani file, aset statis, backup, media, arsip, log, dan berbagai data tidak terstruktur yang jumlahnya terus berkembang.

Namun, arsitektur aplikasi modern tidak harus menggunakan satu jenis penyimpanan untuk seluruh workload.

Setiap storage mempunyai karakteristik yang dirancang untuk kebutuhan tertentu. Karena itu, Object Storage justru dapat memberikan hasil terbaik ketika digunakan bersama komponen storage lain yang menangani kebutuhan berbeda.

Data Transaksional Dapat Tetap Menggunakan Storage yang Sesuai

Object Storage memperlakukan file sebagai sebuah objek. Model tersebut sangat efektif ketika aplikasi perlu menyimpan lalu mengambil kembali gambar, video, dokumen, backup, atau file lain sebagai satu objek.

Database mempunyai pola akses yang berbeda.

Database melakukan read dan write secara intensif terhadap bagian data tertentu. Sistem tersebut juga membutuhkan karakteristik I/O yang memang dirancang untuk operasi database.

Dalam arsitektur seperti ini, Object Storage tidak perlu menggantikan database maupun storage yang digunakannya.

Keduanya justru dapat bekerja bersama.

Contohnya:

Block Storage → database aktif

Object Storage → gambar, attachment, backup, dan arsip

Pembagian tersebut memungkinkan setiap komponen menjalankan tugas yang memang sesuai dengan karakteristiknya.

Object Storage Melengkapi Database

Bayangkan sebuah aplikasi e-commerce.

Database dapat menyimpan:

  1. produk
  2. harga
  3. stok
  4. pelanggan
  5. transaksi
  6. status pembayaran

Sementara itu, Object Storage dapat menampung:

  1. gambar produk
  2. invoice PDF
  3. foto review
  4. dokumen
  5. hasil export
  6. file backup

Arsitekturnya menjadi:

Jika kamu ingin memahami karakter storage yang digunakan untuk workload seperti database, kamu dapat membaca pembahasan mengenai block storage.

Object Storage Membantu Infrastruktur Berkembang Secara Modular

Pada tahap awal, menyimpan semua komponen aplikasi di dalam satu server dapat menjadi pendekatan yang sederhana.

Namun, ketika aplikasi tumbuh, kebutuhan setiap resource biasanya mulai berbeda.

CPU dapat membutuhkan scaling karena proses aplikasi meningkat. Database dapat membutuhkan optimasi I/O, sedangkan file dapat tumbuh karena jumlah pengguna semakin besar.

Memisahkan komponen memungkinkan tim membangun pola:

Compute → scaling berdasarkan workload aplikasi

Database → scaling berdasarkan transaksi

Object Storage → scaling berdasarkan pertumbuhan file

Arsitektur tersebut membuat kapasitas penyimpanan tidak lagi menjadi alasan utama untuk meningkatkan seluruh server.

Object Storage DomaiNesia menyediakan kombinasi S3-compatible storage, high availability dengan 3X replikasi, automatic failover, jaringan cluster 40 GbE, dukungan konektivitas CDN, serta kapasitas hingga 10 TB untuk mendukung pola tersebut.

🚀

Pisahkan pertumbuhan data dari resource server utama

Gunakan Object Storage DomaiNesia untuk menyimpan aset website, backup, media, dan file aplikasi melalui storage S3-compatible yang dilengkapi 3X replikasi data dan automatic failover.

Coba Object Storage Sekarang!

Baca Juga:  Apa itu Shopify? Pengertianya adalah Platform Toko Online

Jadi, Kapan Object Storage DomaiNesia Relevan Digunakan?

Object Storage DomaiNesia menjadi relevan ketika pertumbuhan data mulai membutuhkan layer penyimpanan yang dapat dikelola secara independen dari server utama.

Kebutuhan tersebut dapat muncul ketika website memiliki ribuan aset media, aplikasi menerima banyak attachment dari pengguna, tim membutuhkan destination untuk backup, atau developer ingin memisahkan file dari business logic aplikasi.

Dukungan S3-compatible membuat Object Storage dapat dihubungkan dengan berbagai aplikasi melalui pola integrasi yang sudah umum. Bucket dan object key memberikan struktur untuk mengelola data, sedangkan Access Key, Secret Key, dan pre-signed URL menyediakan mekanisme yang dapat digunakan aplikasi untuk mengontrol akses objek.

Pada layer infrastrukturnya, 3X replikasi dan automatic failover mendukung high availability. Jaringan 40 GbE memberikan kapasitas komunikasi pada cluster, sedangkan Direct Connect 10G, Cloudflare CDN, HTTP/3, dan Brotli mendukung jalur delivery data sesuai dengan fungsi masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, Object Storage tidak hanya memberikan ruang penyimpanan tambahan. Layanan ini dapat menjadi layer storage tersendiri yang membantu website dan aplikasi berkembang secara lebih modular, fleksibel, dan mudah disesuaikan dengan pertumbuhan data.

Jika layanan sudah aktif dan kamu ingin mulai membuat bucket, Access Key, serta menghubungkannya dengan S3 client, lanjutkan ke panduan mengakses Object Storage DomaiNesia.

Mila Rosyida

Halo ! I'm a Technical Content Specialist in DomaiNesia. I love learn anything about Technical, Data, Machine Learning, and more Technology.


Berlangganan Artikel

Dapatkan artikel, free ebook dan video
terbaru dari DomaiNesia

{{ errors.name }} {{ errors.email }}
Migrasi ke DomaiNesia

Migrasi Hosting ke DomaiNesia Gratis 1 Bulan

Ingin memiliki hosting dengan performa terbaik? Migrasikan hosting Anda ke DomaiNesia. Gratis jasa migrasi dan gratis 1 bulan masa aktif!

Ya, Migrasikan Hosting Saya

Hosting Nimbus Plus